Brief Chat #2 | Balance

Sesaat saya mengingat obrolan singkat kami di penghujung senja akhir bulan Desember lalu. Seperti yang pernah saya ceritakan di postingan sebelumnya disini, bahwa saya dan pasangan terbiasa ‘ngobrol’ tentang apapun yang menurut kami memang menarik untuk dibahas, seperti obrolan kami di rumah sore itu. Seringkali kami menemukan masalah yang dihadapi oleh siswa kami mengerucut pada pola asuh yang tak seimbang antara kedua orang tuanya. Menurutnya inilah fungsi pembagian peran ayah dan bunda dalam pengasuhan anak.

Saya setuju dengan pendapatnya, ibarat tanaman, ia akan tumbuh baik jika cukup disirami dengan air yang menyejukkan dan disinari tegasnya cahaya matahari. Bagitu pula dengan anak-anak, mereka akan tumbuh mempesona jika orang tua memberikan pengasuhan yang seimbang. Mereka perlu sosok tegas dan sosok lembut dari kedua orang tuanya. Ayah dan bunda perlu bekerjasama untuk menghadirkan karakter tersebut di hadapan anak-anak.

Tapi jangan salah, tak selalu karakter tegas muncul pada diri ayah, ada kalanya bunda perlu memperlihatkan ketegasan dirinya. Misalnya dalam urusan domestik seperti melatih anak-anak untuk membereskan tempat tidur mereka masing-masing saat mereka bangun tidur.

Pun karakter lembut juga sesekali perlu ditampakkan oleh ayah. Misalnya ketika anak-anak sedang mengalami masalah, berikan pelukan yang hangat untuk menenangkannya. Hal itu tak hanya bisa membantu anak untuk berkembang, tapi juga merupakan proses bonding antara orang tua dan anak-anak. Sehingga anak menyadari bahwa orang tua mereka adalah sahabat terbaik bagi mereka.

Lalu muncul pertanyaan, bagaimana dengan single parent yang sendiri dalam membesarkan anak mereka?

Jika para single parent boleh memilih, saya yakin mereka akan lebih memilih berdua. Tapi jangan khawatir, bunda Khadijah RA pun pernah menjadi single parent selepas Atique bin Aith (suaminya) meninggal, sebelum ia bertemu dengan Rasulullah.  Bahkan beliau mampu membagi perannya tak hanya di rumah, namun juga dalam pekerjaan luar rumah sebagai womanpreneur. Ya, bukan tak mungkin menjadi single parent membuat peran ayah/ bunda menjadi tidak sesuai dengan porsi yang harus didapatkan oleh anak-anak. Menjadi single fighter berarti ayah/ bunda perlu men-double-kan perannya untuk anak-anak. Sesekali munculkan karakter tegas dan karakter lembut di hadapan anak. Mungkin sulit, tapi jika dibiasakan, in syaa Allah upaya yang dilakukan tak akan pernah luput dari kalkulasi Allah.

Intinya, mereka memerlukan keseimbangan pola asuh. Kita tidak bisa memaksa anak untuk tumbuh dalam pola asuh yang keras, namun tak boleh pula kita mendidik mereka dengan terlalu memanjakan mereka. Ya, semua ada porsinya. Dengan begitu, mereka akan tumbuh dengan baik. Pun ayah dan bunda, akan senantiasa belajar dengan baik seiring menyaksikan pertumbuhan mereka.

Grateful Daughter

Ibu..

Like your job at hospital as a nurse, you take care of my health

Like a map, you help me find my way

Like a wonderwoman, you can save the day

Like a teacher, you share your knowledge to me

Like a psycholog, you always listen my problem

Like the ocean, you always there waiting for me

Like no one else, you love me with all your heart

Like home, you are where my heart is

You have done everything for me

for all your children

for everyone

 I’m grateful to have you in my life.
Much love, Eka.