M E N E P I

Amanah dan rutinitas yang silih berganti, tak dapat dipungkiri cukup menguras energi, sangat mungkin menyisakan rasa penat dalam jiwa.
Layaknya mesin, ada masanya dimana ia harus berhenti sejenak untuk menghindari kerusakan dari pemakaian berlebihan.
Terkadang, menarik diri dari rutinitas yang ada dapat menjadi obat yang cukup ampuh. Memisahkan penat dari jiwa, menyatukan kembali keping harapan.

Menikmati detik romantis di waktu lelap bersama Pemilik Kehidupan. Mengokohkan kembali azzam yang mulai rapuh.
Sungguh,

berbisik dan bersimpuh padaNya adalah sebaik-baik obat.
Menepilah sejenak, temukanlah rinai yang mampu membasahi jiwa yang mulai gersang.

Check Your Self Concept

Self concept = How do you think about yourself ?

Ya, bagaimana kamu mempersepsi dirimu sendiri. Pada dasarnya, semua orang mempunyai konsep diri masing-masing, namun semua itu menjadi berbeda karena setiap orang mempunyai cara sendiri untuk menciptakan persepsi tersebut, memikirkannya, dan merasakannya. Contoh real  bisa kita lihat dalam kehidupan sehari-hari, misalnya ada seseorang yang mempersepsi dirinya sebagai seorang yang mempunyai kelebihan tertentu, hal ini kemudian memacu dirinya untuk meraih sebuah prestasi. Logikanya, kalau kita sudah memiliki  dorongan yang kuat dari dalam diri, maka ini akan memudahkan kita untuk meraih prestasi yang kita inginkan. Mengenai kualitasnya bagaimana, itu soal proses yang kita jalani. Ada juga orang yang mempersepsi dirinya sebagai seorang yang tidak mempunyai kelebihan apa-apa. By nature, ini tidak memberikan dorongan yang positif dalam dirimu. Intinya, ada konsep diri positif dan ada yang negatif. Namun, konsep diri jarang kita nyatakan secara verbal, biasanya semua itu ada di dalam hati kita dan langsung kita praktekkan. Karena itu ada yang menyebutkan bahwa ”nasib seseorang tercetak tanpa pengumuman apa-apa.” Sejauh mana konsep diri dapat mempengaruhi kemajuan seseorang ? Ada beberapa hal yang perlu dicatat disini, antara lain :

Pertama, konsep diri berhubungan dengan kualitas hubungan intrapersonal (diri sendiri).

Konsep diri positif akan memproduksi kualitas hubungan yang positif. Ini misalnya harmonis dengan diri sendiri, mengetahui kelebihan dan kelemahan secara lebih akurat, atau punya penilaian positif terhadap diri sendiri. Hubungan yang harmonis akan menciptakan kebahagiaan diri (perasaan positif terhadap diri sendiri).

Kedua, konsep diri terkait dengan kualitas hubungan dengan orang lain.

Orang yang hubunganya harmonis dengan dirinya akan menghasilkan hubungan yang harmonis dengan orang lain. Inilah yang menjadi pokok bahasan Kecerdasan Emosional (EQ). Sebaliknya, orang yang di dalam dirinya ada perang, akan mudah memproduksi peperangan juga di luar.

Karena itu, berbagai studi di bidang kesehatan mental mengungkap bahwa orang yang sedang mengalami stres atau depresi kurang bisa menjalin hubungan yang harmonis dengan orang lain. Biasanya, hubungan mereka diwarnai dengan semangat permusuhan, perdebatan, konflik, atau minimalnya mudah patah. Selain terkait dengan soal kualitas keharmonisan, Konsep diri juga terkait dengan soal setting mental atau isi pikiran saat berhubungan dengan orang lain. Dale Carnegie menyebutnya dengan istilah filsafat hidup. Ada orang yang punya filsafat hidup memberi, ingin berbagi, ingin bekerjasama, ingin meminta (diberi), ingin mengambil, dan lain-lain.

Konsep diri yang lemah akan mendorong kita untuk meminta (asking or begging). Ini misalnya saja : apa yang bisa diberikan kepada saya, apa yang bisa saya “manfaatkan”, apa yang bisa saya ambil, dan lain–lain. Sebaliknya, konsep diri yang kuat akan mendorong kita untuk berpikir, misalnya saja : Apa yang bisa saya berikan, apa yang bisa saya kerjasamakan, apa yang bisa saya sinergikan, apa yang bisa saya serviskan, apa yang bisa saya bantu, dan lain-lain.

Kalau bicara keharmonisan hubungan jangka panjang, konsep mental yang paling menjanjikan adalah konsep mental yang kuat : saling memberi, saling berbagi, saling bersinergi, dan semisalnya. Soal bentuknya seperti apa, ini urusan lain.

Ketiga, konsep diri terkait dengan kualitas seseorang dalam menghadapi  perubahan keadaan.

Perubahan itu bisa dipahami sebagai tekanan (pressure) atau tantangan (challenge). Ini tergantung pada bagaimana kita punya persepsi diri. Tantangan adalah “panggilan” atau kesempatan untuk membuktikan kemampuan, kebolehan, atau kehebatan kita.

Konsep diri yang bagus akan memproduksi kepercayaan yang bagus (pede). Orang yang pede akan cenderung melihat perubahan sebagai tantangan untuk dihadapi, tantangan untuk diselesaikan, tantangan untuk dilompati. Karena itu, seperti kata Mohammad Ali, petinju legendaris itu, yang membuat orang lari dari masalah itu adalah kepercayaan diri yang rendah.