Menyulam Kata, Menata Hati

Menulis bagi saya tak hanya menjadi kesempatan untuk ber-katarsis ria, tetapi menulis juga memiliki banyak makna -setidaknya bagi diri saya sendiri-.

Menulis adalah sebuah seni, seni untuk menata kata sedemikian rupa sehingga mampu menyejukkan yang membacanya. Menulis mengajarkan saya untuk memilih hanya kata-kata yang bagus saja, kata-kata yang santun. Menulis mengajarkan saya untuk merangkai setiap diksi menjadi untaian yang manis.

Menulis bagi saya juga sebuah upaya untuk menata hati. Kenapa saya bilang menata hati? Maksud menata hati disini, bagi saya dengan menulis membuat saya menjadi lebih tenang karena menulis menjadi salah satu cara bagi saya untuk mengurai segala hal yang mampir dalam pikiran saya. Tak hanya berbagi ide, tetapi juga berbagi perasaan. Menulis membuat saya dapat meluapkan segala sesuatu yang menyesap di dada.

Menulis adalah ‘me time‘ yang bisa saya lakukan dimanapun dan kapanpun. Apalagi dengan kecanggihan media saat ini, saya bisa menulis tanpa harus membuka laptop. Bagi saya, me time tak harus memanjakan diri di salon untuk melakukan perawatan ini dan itu. Bisa merangkai kata demi kata menjadi sebuah paragraf yang enak dibaca sudah cukup memanjakan diri saya. Karena dengan menulis, kata yang tertahan di setiap simpul saraf dapat saya keluarkan.

Menulis merupakan kesempatan terbaik untuk belajar, dengan menulis saya berproses menguasai banyak hal baru. Menulis bagi saya menjadikan otak terlatih karena selalu berpikir.

Menulis juga membuat saya mempelajari komunikasi. Bagaimana cara menyampaikan apa yang ada di pikiran saya sehingga orang lain mampu memahaminya.

Dan yang terakhir yang paling saya sukai adalah menulis membuat saya bahagia. 
Jangan bandingkan tulisan saya dengan tulisan-tulisan indah para penyair atau para sastrawan yang ada. Saya belum mampu menggapai kekuatan tangan, hati, dan otak mereka untuk menghasilkan sebuah karya yang mengagumkan. Tulisan saya hanyalah percikan duri dan wangi yang ingin terlihat mempesona.

Seperti judul blog saya, “SWEET ESCAPE” yang berarti ‘Pelarian yang Manis’, blog ini adalah tempat saya ‘melarikan diri’, mengurai kejenuhan dan kelelahan akan rutinitas sehari-hari.

Semoga saja, tulisan yang masih sangat jauh dari kata bagus ini bisa memberi secubit manfaat bagi pembacanya.

Flash Thought at 08.08 pm

Love-Momen - Copy

It’s May and it’s mean time to reflect back on the last month. I have a lot of good moments in this month. Some moments are nice, some are nicer, and some are even worth writing. Here are my best moments of April:

  1. Going home
  2. Lean on mother’s hug
  3. When his family came to my house and get silaturrahim with my family, ah i just falling in love with this moment! I’ve a new family, soon, in syaa Allah 🙂
  4. Listening to the rain pouring outside
  5. Falling in love and being loved by him
  6. Enjoying the night and seeing the one i love happy
  7. When he tell me “i love you” every day
  8. “Accidentally” hearing someone say something good about me
  9. Talk with an old friend and remembering great memories
  10. Being a part of an interesting conversation
  11. Laughing with no reason :p

I think every moment of life is best because you can learn new things from every moment.

If you have a good moment, be thankful to Allah. But if you’ve the bad ones, keep being thankful because Allah let you learn from that.

Bunda, Aku Jatuh Cinta

Siang kemarin, saya mengamati anak yang menurut saya ‘berbeda’ belakangan ini. Ada sesuatu yang ‘tidak biasa’ dengannya menurut saya. Tiba-tiba ia jadi lebih ‘rajin’ melamun, sering senyum-senyum sendiri, bahkan anak pendiam ini tiba-tiba suka bernyanyi dan menulis puisi.

Malamnya, ia mengajak saya ngobrol via whatsapp. “Bun, aku pengen curhat tapi malu”, begitu isi chatnya. Setelah panjang lebar ngobrol mengenai sekolahnya, tiba-tiba ia mengirim chat berisi kalimat, “Bunda, aku lagi jatuh cinta nih”. Saya tersenyum, ternyata ini yang membuatnya jadi agak ‘berbeda’ belakangan ini. Lalu saya menjawabnya dengan kalimat, “wah anak bunda udah gede, udah ngerasain yang namanya falling in love. sama siapa atuh? kenalin dong perempuannya ke bunda”.

Saya terbiasa tidak langsung melarang anak-anak, maksud saya berusaha menempatkan diri di posisi mereka sehingga mereka lebih leluasa menceritakan perasaannya. Saya berusaha untuk tidak membuat sekat, se-‘horor’ apapun bahasannya, saya ingin anak-anak merasa memiliki teman bercerita yang dapat dipercaya bahkan untuk menceritakan hal-hal buruk yang sedang mereka ‘gandrungi’ sekalipun. Dengan membuat mereka percaya, saya akan lebih mudah membimbing mereka tanpa perlu ‘kepo’ atau menebak-nebak karena mereka yang menceritakannya sendiri.

Melihat perkembangan saat ini, tidak dapat dipungkiri media sosial, tayangan televisi, dan pergaulan sangat mempengaruhi perkembangan anak-anak. Mereka sudah ‘terbiasa’ mendengar kata pacaran, jatuh cinta, bahkan seperti kita lihat di berita-berita banyak anak di bawah umur yang gaya berpacarannya sudah seperti suami istri. Kita tidak sepenuhnya bisa menyalahkan atau melarang mereka, yang harus kita lakukan adalah membuat mereka paham bahwa hal tersebut belum waktunya mereka lakukan.

Lalu, jika anak mengatakan bahwa ia sedang jatuh cinta, apa yang bisa kita lakukan?

Menjadi sahabat bagi anak
Biasanya, ketika anak bercerita bahwa ia sedang jatuh cinta, saya menanggapi dengan obrolan santai seperti minta dikenalkan dengan orang yang disukainya, menyebutnya sudah besar, atau memintanya menceritakan seperti apa sih jatuh cinta itu. Kalau belum apa-apa kita sudah langsung melarang, anak pasti merasa tidak nyaman dan tidak mau bercerita pada kita. Apalagi remaja jaman sekarang lebih nyaman bercerita pada temannya dibanding dengan orang tuanya. Buang semua sekat komunikasi yang membuat mereka segan bercerita dengan kita, tapi dengan tetap tidak memaksa mereka untuk bercerita. Biarkan mereka bercerita sesuai keinginan mereka, jadilah pendengar yang baik, bukan mendengarkan mereka untuk menjawab mereka. Walaupun remaja jaman sekarang tidak begitu suka urusannya dicampuri oleh orang tua mereka, namun tetap sesekali mereka membutuhkan kita.

Katakan pada mereka itu adalah hal yang wajar
Beritahu mereka bahwa tertarik pada lawan jenis adalah hal yang wajar. Namun, tetap ajak mereka memahami bahwa menyukai lawan jenis bukan berarti harus berpacaran apalagi sampai bergantung kepada orang yang disukainya. Cobalah mengajak anak berdiskusi, jika jatuh cinta membuatnya lebih semangat bersekolah, bukan berarti ketika orang tersebut tidak menyukainya kemudian dia jadi tak lagi semangat bersekolah. Biarkan mereka merasakan emosi mereka, namun ajak mereka agar tetap rasional.

Arahkan ke dalam kegiatan yang lebih bermanfaat
Ketika anak sedang jatuh cinta, biasanya mereka jadi lebih puitis dari biasanya. Kenapa tidak kita bantu mereka untuk membuat puisi yang indah, siapa tau bisa menemukan bakatnya. Atau misalnya jatuh cinta membuat semangat belajarnya dua kali lipat dari biasanya, kenapa tidak kita bantu mereka untuk lebih aktif membahas pelajarannya? Atau misalnya kita ajak mereka membuat daily journal yang berisi cerita mengenai perasaannya setiap hari, hal ini akan membantu mereka belajar mengenali emosi mereka.

Lebih seru kan?
Akur dan bersahabat dengan si remaja, bukanlah hal yang sulit asalkan kita mau sama-sama mengerti kok ^^

Kuncinya, jangan pernah menyamakan jaman kita remaja dengan jaman remaja mereka saat ini, jelas beda! 😀

Much love,
Eka

Brief Chat #2 | Balance

Sesaat saya mengingat obrolan singkat kami di penghujung senja akhir bulan Desember lalu. Seperti yang pernah saya ceritakan di postingan sebelumnya disini, bahwa saya dan pasangan terbiasa ‘ngobrol’ tentang apapun yang menurut kami memang menarik untuk dibahas, seperti obrolan kami di rumah sore itu. Seringkali kami menemukan masalah yang dihadapi oleh siswa kami mengerucut pada pola asuh yang tak seimbang antara kedua orang tuanya. Menurutnya inilah fungsi pembagian peran ayah dan bunda dalam pengasuhan anak.

Saya setuju dengan pendapatnya, ibarat tanaman, ia akan tumbuh baik jika cukup disirami dengan air yang menyejukkan dan disinari tegasnya cahaya matahari. Bagitu pula dengan anak-anak, mereka akan tumbuh mempesona jika orang tua memberikan pengasuhan yang seimbang. Mereka perlu sosok tegas dan sosok lembut dari kedua orang tuanya. Ayah dan bunda perlu bekerjasama untuk menghadirkan karakter tersebut di hadapan anak-anak.

Tapi jangan salah, tak selalu karakter tegas muncul pada diri ayah, ada kalanya bunda perlu memperlihatkan ketegasan dirinya. Misalnya dalam urusan domestik seperti melatih anak-anak untuk membereskan tempat tidur mereka masing-masing saat mereka bangun tidur.

Pun karakter lembut juga sesekali perlu ditampakkan oleh ayah. Misalnya ketika anak-anak sedang mengalami masalah, berikan pelukan yang hangat untuk menenangkannya. Hal itu tak hanya bisa membantu anak untuk berkembang, tapi juga merupakan proses bonding antara orang tua dan anak-anak. Sehingga anak menyadari bahwa orang tua mereka adalah sahabat terbaik bagi mereka.

Lalu muncul pertanyaan, bagaimana dengan single parent yang sendiri dalam membesarkan anak mereka?

Jika para single parent boleh memilih, saya yakin mereka akan lebih memilih berdua. Tapi jangan khawatir, bunda Khadijah RA pun pernah menjadi single parent selepas Atique bin Aith (suaminya) meninggal, sebelum ia bertemu dengan Rasulullah.  Bahkan beliau mampu membagi perannya tak hanya di rumah, namun juga dalam pekerjaan luar rumah sebagai womanpreneur. Ya, bukan tak mungkin menjadi single parent membuat peran ayah/ bunda menjadi tidak sesuai dengan porsi yang harus didapatkan oleh anak-anak. Menjadi single fighter berarti ayah/ bunda perlu men-double-kan perannya untuk anak-anak. Sesekali munculkan karakter tegas dan karakter lembut di hadapan anak. Mungkin sulit, tapi jika dibiasakan, in syaa Allah upaya yang dilakukan tak akan pernah luput dari kalkulasi Allah.

Intinya, mereka memerlukan keseimbangan pola asuh. Kita tidak bisa memaksa anak untuk tumbuh dalam pola asuh yang keras, namun tak boleh pula kita mendidik mereka dengan terlalu memanjakan mereka. Ya, semua ada porsinya. Dengan begitu, mereka akan tumbuh dengan baik. Pun ayah dan bunda, akan senantiasa belajar dengan baik seiring menyaksikan pertumbuhan mereka.

Brief Chat #1 | Communication

Saya dan pasangan memiliki kebiasaan untuk selalu mengkomunikasikan segala sesuatu secara terbuka. Setiap hari, kami terbiasa menceritakan segala sesuatu yang terjadi atau sekadar sesuatu yang dipikirkan hari itu. Sebenarnya tidak ada alasan khusus kenapa kami selalu menyempatkan dan mengagendakan waktu untuk sekadar mengobrol. Semua itu datang dari kebutuhan kami berdua untuk menjaga komunikasi,  karena setumpuk aktivitas kita masing-masing yang membuat kami jarang bertemu.

Sebenarnya kami berdua tidak sibuk-sibuk amat karena meski jadwal kerja yang kadang padat tak menentu, waktu senggang yang kami punya masih cukup banyak. Namun ya begitulah, bagi kami, kok rasanya sayang ya kesempatan berkomunikasi untuk dilewatkan sekecil apapun itu. Biar bagaimanapun, kami percaya bahwa hal yang mungkin terkesan sepele ini dapat menjaga kebersamaan kami.

Disini, segala hal kami bicarakan, mulai dari curhat yang sepele hingga pembicaraan yang berat. Tema pembicaraan tidak pernah kami tentukan, semua mengalir begitu saja karena sudah menjadi habit bagi kami. Saya bersyukur karena dengan kebiasaan ini membuat kami lebih terbuka satu sama lain. Kami menjadi sama-sama tahu, apa yang sedang dipikirkan oleh pasangan dan apa saja yang sedang dialaminya. Terlebih, soal kondisi di lingkungan kerja yang memang berbeda.

Kami berdua termasuk yang percaya bahwa segala permasalahan yang kami hadapi akan dapat diselesaikan dengan mengkomunikasikannya. Selain itu, kami juga jadi belajar menjadi pendengar yang baik bagi pasangan. Dan kami bisa bertukar pendapat jika ada saran yang kira-kira diperlukan.

Untuk menikmati obrolan ringan ini, kami tidak pernah menentukan tempat khusus. Tempat paling dekat dengan kami, tak harus tempat yang luar biasa dengan makanan yang mahal. Bahkan tak jarang kami ngobrol di motor 😆 Selama kami merasa nyaman, bagi kami sudah lebih dari cukup. Dengan habit ini, kami jadi bisa lebih memahami satu sama lain dan menumbuhkan kepercayaan yang lebih setiap harinya.

Celoteh Senja #2 | Grateful

Bismillaah..

Ahad 02 April 2017, sebenarnya sama saja dengan ahad sebelumnya. Hanya saja, hari itu saya berada di tempat tinggal saya di Depok. Bukan semata untuk pulang menuntaskan rindu pada keluarga di Depok.

Hari itu, saya memiliki keluarga baru yang masyaaAllah membuat saya ingin berlama-lama bercengkrama dengan mereka. Momen bersama keluarga kami, membuat saya tak henti mengecup syukur. Didampingi dengan dua orang nenek, ibu, dan ayah yang begitu menyayangi saya, membuat saya tak ingin beranjak dari rumah.

Ya, sore itu, menjadi sore yang istimewa bersama orang-orang yang istimewa. Semakin berkesan karena dilanjutkan dengan jalan-jalan singkat ke Masjid Dian Al Mahri di Sawangan sebelum kami kembali ke Bandung.

IMG-20150717-WA0007.jpg

Allah merahasiakan masa depan untuk menguji kita agar selalu berprasangka baik, berencana baik, berupaya baik, bersyukur dengan cara yang baik, dan bersabar dengan sebaik-baik kesabaran.
Semoga Allah jadikan hari sebagai awal yang baik dari perjalanan yang baik pula untuk kita ya ❤

Celoteh Senja #1

Kemarin benar-benar hari yang melelahkan. Sejak pagi hari, saya sudah merasa sangat penat dan sedikit lelah. Mungkin dipengaruhi oleh kondisi fisik saya yang memang belum sepenuhnya fit pasca sakit beberapa hari yang lalu, ditambah beberapa deadline tugas yang terus memburu, belum lagi rutinitas sehari-hari yang entah kenapa terasa menjemukan belakangan ini.

Di pagi hari, saya menghadiri pembinaan guru bimbingan konseling wilayah Bandung Selatan yang diadakan oleh pengawas BK dari Dinas Pendidikan Kota Bandung. Alhamdulillaah, kepenatan sedikit berkurang karena saya bertemu dengan banyak teman disana dan mendapatkan banyak ilmu baru. Meskipun saya masih merasa bad mood.

Pasca kegiatan pembinaan, saya dibuat shock dengan list laporan yang harus saya buat untuk dilaporkan ke bapak-ibu pengawas. Ada sekitar 20 laporan yang harus saya selesaikan dalam waktu 3 hari, hari selasa semua laporan itu harus sudah terkirim ke email pengawas. Subhanallah!

Setelah kegiatan selesai, saya langsung estafet untuk rapat pengurus MGBK Bandung Selatan. Disanalah semua unek-unek tentang pekerjaan bisa dikeluarkan. Memang tidak menyelesaikan masalah, tapi setidaknya saya lebih plong setelah menyampaikan segala keluh kesah. Mungkin saat itu saya hanya ingin didengarkan. Tetapi, setelah menuntaskan rapat ternyata kami dibekali tugas baru dan deadline baru. Kalau kata orang sunda, wayahna. Namanya juga pengurus.

Begitu rapat usai, saya langsung bergegas pulang menuju kost-an. Rasanya ingin berbaring dan mengistirahatkan badan yang lelah sekali hari ini. Namun begitu sampai di kamar, rasa jenuh tidak juga hilang. Akhirnya saya mengajak teman saya untuk berburu kudapan ringan di sekitar kost. Begitu selesai ‘berbelanja’, saya mengajak beberapa orang teman untuk main ke kost-an. Alhamdulillaah, begitu mereka sampai, suasana jadi lebih hangat dan menyenangkan. Kami membahas banyak hal, dari hal-hal yang ringan hingga masalah-masalah yang cukup ‘berat’ yang kami hadapi. Bahkan obrolan kami juga semakin bermakna dengan pembahasan beberapa ‘materi’ yang membuat kami serasa sedang kuliah. Dan berkat mereka, mood saya benar-benar menjadi lebih baik. Ya, bahagia memang sederhana. Sesederhana sore ini bersama mereka, between our laughs, long talks, stupid fights, and silly jokes haha.

Saya tersenyum, seakan-akan ingin memeluk mereka dan berbisik “Great job, guys!”
Thank you for cheering me up, dear friends!