Flash Thought at 08.08 pm

Love-Momen - Copy

It’s May and it’s mean time to reflect back on the last month. I have a lot of good moments in this month. Some moments are nice, some are nicer, and some are even worth writing. Here are my best moments of April:

  1. Going home
  2. Lean on mother’s hug
  3. When his family came to my house and get silaturrahim with my family, ah i just falling in love with this moment! I’ve a new family, soon, in syaa Allah 🙂
  4. Listening to the rain pouring outside
  5. Falling in love and being loved by him
  6. Enjoying the night and seeing the one i love happy
  7. When he tell me “i love you” every day
  8. “Accidentally” hearing someone say something good about me
  9. Talk with an old friend and remembering great memories
  10. Being a part of an interesting conversation
  11. Laughing with no reason :p

I think every moment of life is best because you can learn new things from every moment.

If you have a good moment, be thankful to Allah. But if you’ve the bad ones, keep being thankful because Allah let you learn from that.

Bunda, Aku Jatuh Cinta

Siang kemarin, saya mengamati anak yang menurut saya ‘berbeda’ belakangan ini. Ada sesuatu yang ‘tidak biasa’ dengannya menurut saya. Tiba-tiba ia jadi lebih ‘rajin’ melamun, sering senyum-senyum sendiri, bahkan anak pendiam ini tiba-tiba suka bernyanyi dan menulis puisi.

Malamnya, ia mengajak saya ngobrol via whatsapp. “Bun, aku pengen curhat tapi malu”, begitu isi chatnya. Setelah panjang lebar ngobrol mengenai sekolahnya, tiba-tiba ia mengirim chat berisi kalimat, “Bunda, aku lagi jatuh cinta nih”. Saya tersenyum, ternyata ini yang membuatnya jadi agak ‘berbeda’ belakangan ini. Lalu saya menjawabnya dengan kalimat, “wah anak bunda udah gede, udah ngerasain yang namanya falling in love. sama siapa atuh? kenalin dong perempuannya ke bunda”.

Saya terbiasa tidak langsung melarang anak-anak, maksud saya berusaha menempatkan diri di posisi mereka sehingga mereka lebih leluasa menceritakan perasaannya. Saya berusaha untuk tidak membuat sekat, se-‘horor’ apapun bahasannya, saya ingin anak-anak merasa memiliki teman bercerita yang dapat dipercaya bahkan untuk menceritakan hal-hal buruk yang sedang mereka ‘gandrungi’ sekalipun. Dengan membuat mereka percaya, saya akan lebih mudah membimbing mereka tanpa perlu ‘kepo’ atau menebak-nebak karena mereka yang menceritakannya sendiri.

Melihat perkembangan saat ini, tidak dapat dipungkiri media sosial, tayangan televisi, dan pergaulan sangat mempengaruhi perkembangan anak-anak. Mereka sudah ‘terbiasa’ mendengar kata pacaran, jatuh cinta, bahkan seperti kita lihat di berita-berita banyak anak di bawah umur yang gaya berpacarannya sudah seperti suami istri. Kita tidak sepenuhnya bisa menyalahkan atau melarang mereka, yang harus kita lakukan adalah membuat mereka paham bahwa hal tersebut belum waktunya mereka lakukan.

Lalu, jika anak mengatakan bahwa ia sedang jatuh cinta, apa yang bisa kita lakukan?

Menjadi sahabat bagi anak
Biasanya, ketika anak bercerita bahwa ia sedang jatuh cinta, saya menanggapi dengan obrolan santai seperti minta dikenalkan dengan orang yang disukainya, menyebutnya sudah besar, atau memintanya menceritakan seperti apa sih jatuh cinta itu. Kalau belum apa-apa kita sudah langsung melarang, anak pasti merasa tidak nyaman dan tidak mau bercerita pada kita. Apalagi remaja jaman sekarang lebih nyaman bercerita pada temannya dibanding dengan orang tuanya. Buang semua sekat komunikasi yang membuat mereka segan bercerita dengan kita, tapi dengan tetap tidak memaksa mereka untuk bercerita. Biarkan mereka bercerita sesuai keinginan mereka, jadilah pendengar yang baik, bukan mendengarkan mereka untuk menjawab mereka. Walaupun remaja jaman sekarang tidak begitu suka urusannya dicampuri oleh orang tua mereka, namun tetap sesekali mereka membutuhkan kita.

Katakan pada mereka itu adalah hal yang wajar
Beritahu mereka bahwa tertarik pada lawan jenis adalah hal yang wajar. Namun, tetap ajak mereka memahami bahwa menyukai lawan jenis bukan berarti harus berpacaran apalagi sampai bergantung kepada orang yang disukainya. Cobalah mengajak anak berdiskusi, jika jatuh cinta membuatnya lebih semangat bersekolah, bukan berarti ketika orang tersebut tidak menyukainya kemudian dia jadi tak lagi semangat bersekolah. Biarkan mereka merasakan emosi mereka, namun ajak mereka agar tetap rasional.

Arahkan ke dalam kegiatan yang lebih bermanfaat
Ketika anak sedang jatuh cinta, biasanya mereka jadi lebih puitis dari biasanya. Kenapa tidak kita bantu mereka untuk membuat puisi yang indah, siapa tau bisa menemukan bakatnya. Atau misalnya jatuh cinta membuat semangat belajarnya dua kali lipat dari biasanya, kenapa tidak kita bantu mereka untuk lebih aktif membahas pelajarannya? Atau misalnya kita ajak mereka membuat daily journal yang berisi cerita mengenai perasaannya setiap hari, hal ini akan membantu mereka belajar mengenali emosi mereka.

Lebih seru kan?
Akur dan bersahabat dengan si remaja, bukanlah hal yang sulit asalkan kita mau sama-sama mengerti kok ^^

Kuncinya, jangan pernah menyamakan jaman kita remaja dengan jaman remaja mereka saat ini, jelas beda! 😀

Much love,
Eka

Celoteh Senja #1

Kemarin benar-benar hari yang melelahkan. Sejak pagi hari, saya sudah merasa sangat penat dan sedikit lelah. Mungkin dipengaruhi oleh kondisi fisik saya yang memang belum sepenuhnya fit pasca sakit beberapa hari yang lalu, ditambah beberapa deadline tugas yang terus memburu, belum lagi rutinitas sehari-hari yang entah kenapa terasa menjemukan belakangan ini.

Di pagi hari, saya menghadiri pembinaan guru bimbingan konseling wilayah Bandung Selatan yang diadakan oleh pengawas BK dari Dinas Pendidikan Kota Bandung. Alhamdulillaah, kepenatan sedikit berkurang karena saya bertemu dengan banyak teman disana dan mendapatkan banyak ilmu baru. Meskipun saya masih merasa bad mood.

Pasca kegiatan pembinaan, saya dibuat shock dengan list laporan yang harus saya buat untuk dilaporkan ke bapak-ibu pengawas. Ada sekitar 20 laporan yang harus saya selesaikan dalam waktu 3 hari, hari selasa semua laporan itu harus sudah terkirim ke email pengawas. Subhanallah!

Setelah kegiatan selesai, saya langsung estafet untuk rapat pengurus MGBK Bandung Selatan. Disanalah semua unek-unek tentang pekerjaan bisa dikeluarkan. Memang tidak menyelesaikan masalah, tapi setidaknya saya lebih plong setelah menyampaikan segala keluh kesah. Mungkin saat itu saya hanya ingin didengarkan. Tetapi, setelah menuntaskan rapat ternyata kami dibekali tugas baru dan deadline baru. Kalau kata orang sunda, wayahna. Namanya juga pengurus.

Begitu rapat usai, saya langsung bergegas pulang menuju kost-an. Rasanya ingin berbaring dan mengistirahatkan badan yang lelah sekali hari ini. Namun begitu sampai di kamar, rasa jenuh tidak juga hilang. Akhirnya saya mengajak teman saya untuk berburu kudapan ringan di sekitar kost. Begitu selesai ‘berbelanja’, saya mengajak beberapa orang teman untuk main ke kost-an. Alhamdulillaah, begitu mereka sampai, suasana jadi lebih hangat dan menyenangkan. Kami membahas banyak hal, dari hal-hal yang ringan hingga masalah-masalah yang cukup ‘berat’ yang kami hadapi. Bahkan obrolan kami juga semakin bermakna dengan pembahasan beberapa ‘materi’ yang membuat kami serasa sedang kuliah. Dan berkat mereka, mood saya benar-benar menjadi lebih baik. Ya, bahagia memang sederhana. Sesederhana sore ini bersama mereka, between our laughs, long talks, stupid fights, and silly jokes haha.

Saya tersenyum, seakan-akan ingin memeluk mereka dan berbisik “Great job, guys!”
Thank you for cheering me up, dear friends!