Flash Thought at 08.08 pm

Love-Momen - Copy

It’s May and it’s mean time to reflect back on the last month. I have a lot of good moments in this month. Some moments are nice, some are nicer, and some are even worth writing. Here are my best moments of April:

  1. Going home
  2. Lean on mother’s hug
  3. When his family came to my house and get silaturrahim with my family, ah i just falling in love with this moment! I’ve a new family, soon, in syaa Allah 🙂
  4. Listening to the rain pouring outside
  5. Falling in love and being loved by him
  6. Enjoying the night and seeing the one i love happy
  7. When he tell me “i love you” every day
  8. “Accidentally” hearing someone say something good about me
  9. Talk with an old friend and remembering great memories
  10. Being a part of an interesting conversation
  11. Laughing with no reason :p

I think every moment of life is best because you can learn new things from every moment.

If you have a good moment, be thankful to Allah. But if you’ve the bad ones, keep being thankful because Allah let you learn from that.

Brief Chat #2 | Balance

Sesaat saya mengingat obrolan singkat kami di penghujung senja akhir bulan Desember lalu. Seperti yang pernah saya ceritakan di postingan sebelumnya disini, bahwa saya dan pasangan terbiasa ‘ngobrol’ tentang apapun yang menurut kami memang menarik untuk dibahas, seperti obrolan kami di rumah sore itu. Seringkali kami menemukan masalah yang dihadapi oleh siswa kami mengerucut pada pola asuh yang tak seimbang antara kedua orang tuanya. Menurutnya inilah fungsi pembagian peran ayah dan bunda dalam pengasuhan anak.

Saya setuju dengan pendapatnya, ibarat tanaman, ia akan tumbuh baik jika cukup disirami dengan air yang menyejukkan dan disinari tegasnya cahaya matahari. Bagitu pula dengan anak-anak, mereka akan tumbuh mempesona jika orang tua memberikan pengasuhan yang seimbang. Mereka perlu sosok tegas dan sosok lembut dari kedua orang tuanya. Ayah dan bunda perlu bekerjasama untuk menghadirkan karakter tersebut di hadapan anak-anak.

Tapi jangan salah, tak selalu karakter tegas muncul pada diri ayah, ada kalanya bunda perlu memperlihatkan ketegasan dirinya. Misalnya dalam urusan domestik seperti melatih anak-anak untuk membereskan tempat tidur mereka masing-masing saat mereka bangun tidur.

Pun karakter lembut juga sesekali perlu ditampakkan oleh ayah. Misalnya ketika anak-anak sedang mengalami masalah, berikan pelukan yang hangat untuk menenangkannya. Hal itu tak hanya bisa membantu anak untuk berkembang, tapi juga merupakan proses bonding antara orang tua dan anak-anak. Sehingga anak menyadari bahwa orang tua mereka adalah sahabat terbaik bagi mereka.

Lalu muncul pertanyaan, bagaimana dengan single parent yang sendiri dalam membesarkan anak mereka?

Jika para single parent boleh memilih, saya yakin mereka akan lebih memilih berdua. Tapi jangan khawatir, bunda Khadijah RA pun pernah menjadi single parent selepas Atique bin Aith (suaminya) meninggal, sebelum ia bertemu dengan Rasulullah.  Bahkan beliau mampu membagi perannya tak hanya di rumah, namun juga dalam pekerjaan luar rumah sebagai womanpreneur. Ya, bukan tak mungkin menjadi single parent membuat peran ayah/ bunda menjadi tidak sesuai dengan porsi yang harus didapatkan oleh anak-anak. Menjadi single fighter berarti ayah/ bunda perlu men-double-kan perannya untuk anak-anak. Sesekali munculkan karakter tegas dan karakter lembut di hadapan anak. Mungkin sulit, tapi jika dibiasakan, in syaa Allah upaya yang dilakukan tak akan pernah luput dari kalkulasi Allah.

Intinya, mereka memerlukan keseimbangan pola asuh. Kita tidak bisa memaksa anak untuk tumbuh dalam pola asuh yang keras, namun tak boleh pula kita mendidik mereka dengan terlalu memanjakan mereka. Ya, semua ada porsinya. Dengan begitu, mereka akan tumbuh dengan baik. Pun ayah dan bunda, akan senantiasa belajar dengan baik seiring menyaksikan pertumbuhan mereka.

They See Us, They Copy Us

Kata disiplin berasal dari bahasa Latin, discipulus, yang berarti “pembelajar”. Jadi disiplin itu sebenarnya difokuskan pada pengajaran. Dari pengertian tersebut, dapat kita maknai bahwa disiplin berarti melakukan pengasuhan terhadap tingkah laku anak. Membicarakan kedisiplinan memang tak ada habisnya. Disiplin memang merupakan hal yang sulit. Terkadang disiplin adalah proses bagi orang tua untuk belajar berempati dan mengendalikan diri, karena terkadang secara tidak sengaja mungkin kita memakai cara-cara klasik yang biasa digunakan untuk mendisiplinkan anak seperti memberi hukuman, ancaman, bahkan hingga melakukan kekerasan fisik.

Padahal, cara-cara klasik tersebut sangatlah berbeda dengan disiplin. Hukuman mungkin dapat digunakan untuk menghentikan perilaku anak yang kurang baik atau tidak sesuai. Ketika anak diberikan hukuman, kebanyakan dari mereka akan melaksanakan hukuman tersebut karena terpaksa. Ya, secara emosional mereka terpaksa mematuhi hukuman tersebut. Namun, dengan memberikan hukuman, tidak menjamin bahwa perilaku tersebut akan hilang seterusnya.

Sementara disiplin merupakan proses pemberian nilai-nilai agar anak dapat belajar dari kesalahannya. Dengan harapan, perilaku tersebut tidak akan muncul lagi di kemudian hari. Disiplin adalah proses membantu agar anak dapat belajar dalam bertindak agar ia pun ‘belajar’ mengenai akibat dari perbuatannya sendiri.

Melatih anak disiplin berarti menjaga komunikasi yang baik dan sehat dengan anak, memantau perkembangan anak dari waktu ke waktu, dan mungkin bisa membuat semacam ‘peraturan kecil’ mengenai batasan perilaku anak. Jika saat ini Indonesia sedang gencar membudayakan literasi bagi anak-anak, maka ingatlah bahwa kita sebagai orang tua adalah salah satu ‘buku teks’ yang mereka baca setiap hari dan selalu mereka ingat.

Ketika orang tua menetapkan ‘peraturan kecil’ pada anak pun harus disesuaikan dengan kemampuan anak dan konsistensi orang tua. Terkadang orang tua tidak adil dalam menerapkan peraturan. Contoh sederhananya, ketika sakit tidak boleh makan-makanan yang dilarang oleh dokter. Ketika anak sakit demam, biasanya orang tua akan melarang mereka makan ice cream. Lalu, pada saat bersamaan orang tua pun sedang sakit batuk namun orang tuanya makan gorengan, padahal jika mereka batuk, mereka dilarang makan gorengan. Anak mungkin ada yang langsung merespon “Ayah kan lagi batuk, kenapa makan gorengan? Kan ngga boleh?”. Kebanyakan orang tua akan menanggapi dengan alasan yang membuat anak akhirnya menerima bahwa hal tersebut tidak salah.

Ketika anak melanggar hal tersebut maka orang tua akan menilai bahwa perilaku tersebut salah. Tapi ketika orang tua yang melanggarnya, mereka memiliki beragam alasan yang menurut mereka masuk akal dan mau tidak mau anak harus menerima bahwa orang tuanya tidak salah. Anak seolah dipaksa untuk mengerti dan memahami orang tuanya tanpa mempertimbangkan kemampuan anak itu sendiri.

Contoh lainnya, anak dilarang menonton televisi hingga larut malam. Tetapi orang tuanya justru mencontohkan hal tersebut. Maka anak akan bertanya-tanya dalam benaknya, kenapa orang tua boleh sementara ia tidak. Kita menyuruh anak kita agar sholat 5 waktu tepat waktu, tapi bahkan kita terlalu asik dengan pekerjaan hingga lupa sholat tepat waktu.

Mereka akan melihat hubungan sebab akibat yang muncul, misalnya ketika mereka salah mereka akan dihukum dengan dimarahi. Secara tidak langsung, hal tersebut akan diterjemahkan oleh anak dalam pikirannya sendiri. Jika tidak ada penjelasan dari orang tua, maka jangan heran atau kaget jika suatu hari nanti anak akan marah ketika ia menganggap sesuatu salah atau tidak sesuai dengan yang diinginkannya.

Di dalam rumah, anak belajar dari orang tuanya. They see us and copy us. Anak-anak membutuhkan konsistensi kita sebagai orang tua terhadap aturan-aturan yang telah kita terapkan. Jika orang tua tidak konsisten, aturan tak akan lagi membatasi mereka. Bisa jadi bagi mereka aturan yang kita buat hanya dianggap gertakan sambel. Ya, satu lagi makna disiplin yang kita dapatkan. Disiplin juga berbicara mengenai disiplin orang tua dalam mematuhi rules yang dibuatnya sendiri.

Kita harus menyadari bahwa anak-anak adalah cerminan diri kita. Sekeras apapun aturan kita, seberat apapun hukumannya, jika mereka tidak memiliki sosok yang dapat  dijadikan contoh yang baik untuk ditiru, maka jangan salahkan mereka jika mereka tidak disiplin.

Mendidik bukan berarti kita harus menghardik, mendidik berarti memberikan cinta sepenuhnya.

Melatih anak agar bisa memahami tidak sama dengan menghakimi, tapi berikan contoh agar mereka bisa menerimanya.

Rangkul mereka, jangan memukul. Agar mereka belajar, bahwa disiplin adalah sesuatu yang harus mereka pelajari dan mereka terapkan dalam kehidupan mereka.