My Favorite Rainy Outfit

Assalamu’alaikum.

Tidak terasa sudah lama saya tidak update blog. Saya sedang ‘asik’ dengan project yang deadlinenya saat ini semakin mendekat. Saya hampir lupa kalau saya punya blog  (jangan ditiru ya)

Beberapa hari ini, hujan turun cukup deras dan dalam waktu yang cukup lama. Udara Bandung yang memang sudah dingin ditambah hujan terus-menerus membuat saya rasanya ingin berdiam diri di rumah. Tapi kalau saya diam di rumah, deadline saya tak akan selesai.

Berpergian di musim hujan bagi sebagian orang adalah hal yang menyebalkan. Tapi alhamdulillaah, sejak kecil saya mencintai hujan. Jadi tak masalah jika harus berpergian dikala hujan.

Saat keluar rumah di musim hujan, ada hal unik yang seringkali terjadi, tanpa bosan beberapa teman sering menegur saya seperti, “udahlah, ribet pake rok, mending pake celana” atau “kerudungnya pake yang simpel aja, jangan panjang-panjang” dan yang paling sering, “ngga usah pake kaos kaki biar ga ribet” hehe.. Kalian juga pasti pernah merasakan.

Tapi alhamdulillah, apapun musimnya saya tetap berusaha untuk bisa berpakaian sesuai syariat. To me this was the perfect outfit for a rainy day but would also look just as stunning in any weather.

Saat hujan, saya lebih senang memakai baju dan kerudung berbahan ringan seperti katun, sifon, dan ceruti. Kenapa? Karena saya mencuci manual (tidak pakai mesin cuci), pakaian berbahan ringan akan memudahkan saya ketika mencuci. Apalagi saat musim hujan cenderung sulit menemukan sinar matahari untuk menjemur, pakaian berbahan ringan akan lebih mudah kering meski tanpa sinar matahari.

Tak pernah lupa, saya selalu membawa 1-2 kaos kaki untuk ganti. Berjaga-jaga jika kaos kaki yang saya pakai,basah di jalan. Jadi tidak ada alasan untuk melepasnya kan? 🙂 Untuk sepatu, saya lebih suka memakai flatshoes berbahan karet, jadi tidak akan basah jika terendam air hujan atau memakai sandal gunung yang memang sifatnya quick dry. Tetapi, jika memang diperlukan, misalnya ada meeting atau pertemuan-pertemuan yang sifatnya formal, saya tetap menggunakan sepatu formal. Jika saat berangkat sudah hujan, biasanya saya berangkat menggunakan sandal jepit dan membawa sepatu formal di dalam tas. Mungkin terkesan ribet, tapi kalau sudah menjadi kebiasaan, kita akan merasa enjoy saja dengan segala ke-ribet-an ini.

Jangan lupa pakaian terbaik dimanapun dan kapanpun ya! (read: taqwa).

The rain doesn’t bother me, I find it quite nice actually.

Ya, jangan salahkan hujan apalagi mencacinya. Hujan adalah pertanda bahwa siklus air dan udara masih normal. Hujan juga pertanda bahwa Allah sedang membagikan rahmatnya pada kita.

Daripada mengeluh karena hujan yang deras, lebih baik perbanyak dzikir dan doa saat hujan!

Syar’i itu tidak berarti kita sempurna. Tapi syar’i berarti kita sedang berusaha menyempurnakan cinta kita pada Allah. Yuk, jangan pernah lelah menyempurnakan cinta padaNya!

Semoga bisa bermanfaat ya readers ❤❤

Much love, Eka.

Advertisements

M E N E P I

Amanah dan rutinitas yang silih berganti, tak dapat dipungkiri cukup menguras energi, sangat mungkin menyisakan rasa penat dalam jiwa.
Layaknya mesin, ada masanya dimana ia harus berhenti sejenak untuk menghindari kerusakan dari pemakaian berlebihan.
Terkadang, menarik diri dari rutinitas yang ada dapat menjadi obat yang cukup ampuh. Memisahkan penat dari jiwa, menyatukan kembali keping harapan.

Menikmati detik romantis di waktu lelap bersama Pemilik Kehidupan. Mengokohkan kembali azzam yang mulai rapuh.
Sungguh,

berbisik dan bersimpuh padaNya adalah sebaik-baik obat.
Menepilah sejenak, temukanlah rinai yang mampu membasahi jiwa yang mulai gersang.

Menyulam Kata, Menata Hati

Menulis bagi saya tak hanya menjadi kesempatan untuk ber-katarsis ria, tetapi menulis juga memiliki banyak makna -setidaknya bagi diri saya sendiri-.

Menulis adalah sebuah seni, seni untuk menata kata sedemikian rupa sehingga mampu menyejukkan yang membacanya. Menulis mengajarkan saya untuk memilih hanya kata-kata yang bagus saja, kata-kata yang santun. Menulis mengajarkan saya untuk merangkai setiap diksi menjadi untaian yang manis.

Menulis bagi saya juga sebuah upaya untuk menata hati. Kenapa saya bilang menata hati? Maksud menata hati disini, bagi saya dengan menulis membuat saya menjadi lebih tenang karena menulis menjadi salah satu cara bagi saya untuk mengurai segala hal yang mampir dalam pikiran saya. Tak hanya berbagi ide, tetapi juga berbagi perasaan. Menulis membuat saya dapat meluapkan segala sesuatu yang menyesap di dada.

Menulis adalah ‘me time‘ yang bisa saya lakukan dimanapun dan kapanpun. Apalagi dengan kecanggihan media saat ini, saya bisa menulis tanpa harus membuka laptop. Bagi saya, me time tak harus memanjakan diri di salon untuk melakukan perawatan ini dan itu. Bisa merangkai kata demi kata menjadi sebuah paragraf yang enak dibaca sudah cukup memanjakan diri saya. Karena dengan menulis, kata yang tertahan di setiap simpul saraf dapat saya keluarkan.

Menulis merupakan kesempatan terbaik untuk belajar, dengan menulis saya berproses menguasai banyak hal baru. Menulis bagi saya menjadikan otak terlatih karena selalu berpikir.

Menulis juga membuat saya mempelajari komunikasi. Bagaimana cara menyampaikan apa yang ada di pikiran saya sehingga orang lain mampu memahaminya.

Dan yang terakhir yang paling saya sukai adalah menulis membuat saya bahagia. 
Jangan bandingkan tulisan saya dengan tulisan-tulisan indah para penyair atau para sastrawan yang ada. Saya belum mampu menggapai kekuatan tangan, hati, dan otak mereka untuk menghasilkan sebuah karya yang mengagumkan. Tulisan saya hanyalah percikan duri dan wangi yang ingin terlihat mempesona.

Seperti judul blog saya, “SWEET ESCAPE” yang berarti ‘Pelarian yang Manis’, blog ini adalah tempat saya ‘melarikan diri’, mengurai kejenuhan dan kelelahan akan rutinitas sehari-hari.

Semoga saja, tulisan yang masih sangat jauh dari kata bagus ini bisa memberi secubit manfaat bagi pembacanya.

Flash Thought at 08.08 pm

Love-Momen - Copy

It’s May and it’s mean time to reflect back on the last month. I have a lot of good moments in this month. Some moments are nice, some are nicer, and some are even worth writing. Here are my best moments of April:

  1. Going home
  2. Lean on mother’s hug
  3. When his family came to my house and get silaturrahim with my family, ah i just falling in love with this moment! I’ve a new family, soon, in syaa Allah 🙂
  4. Listening to the rain pouring outside
  5. Falling in love and being loved by him
  6. Enjoying the night and seeing the one i love happy
  7. When he tell me “i love you” every day
  8. “Accidentally” hearing someone say something good about me
  9. Talk with an old friend and remembering great memories
  10. Being a part of an interesting conversation
  11. Laughing with no reason :p

I think every moment of life is best because you can learn new things from every moment.

If you have a good moment, be thankful to Allah. But if you’ve the bad ones, keep being thankful because Allah let you learn from that.

Cinta yang Selalu Berbalas

Do’a adalah komunikasi dalam cinta.

Do’a adalah cinta yang tak pernah bertepuk sebelah tangan. Cinta yang selalu terbalas tepat sesuai pada waktu dan dengan cara yang tepat.

Malam tadi, kupeluk harapan-harapan kita dalam do’a. Meyakini, ketika kusampaikan pada bumi, ia akan sampai pada langit.

Malam tadi, kurangkul syukur-syukur kita yang menghampar. Aku mengakuinya, satu per satu, do’a kita bertemu. MencintaiNya bersama sepanjang waktu.

Ya, do’a kita adalah tentang cinta padaNya dan cinta kita adalah tentang do’a-do’a panjang yang membisik halus di penghujung malamNya.

Ah!

Yang satu ini tak akan pernah bekerja pada hati yang tak berkeyakinan. Benar adanya, do’a adalah hal paling romantis yang selalu berbalas.

Senja ini, kugantungkan lagi harapanku pada langit. Semoga cerita kita selalu ada dalam do’a yang tak pernah putus. Bersisian dalam bingkai cinta tak terbatas.

Duhai semesta, kami jatuh cinta setiap saat.

Jakarta, 09-04-2017. Much love, Eka.

Berkata Baik atau Diam

Jika tak yakin kata yang diucapkan menjadi pemberat catatan amal, diamlah yang harus menjadi pilihan.

Kita sering lupa untuk menahan diri dari berkata-kata yang tidak perlu. Apalagi kehidupa sekarang yang dipenuhi aneka media sosial, semua orang berbondong-bondong menuliskan apapun di media sosial. Begitu ‘bebas’nya kita menulis, kadang kita tak sadar kata-kata kita telah menyakiti hati saudara kita.

Sering kita lupa untuk menahan diri dari membicarakan saudara kita sendiri. Kita merasa benar, sehingga merasa tak perlu berupaya untuk bertabayun pada saudara kita.

Siapa beriman kepada Allah dan hari kemudian, maka hendaklah ia berkata baik atau diam (Muttafaq‘alaih).

Imam Syafi’i ketika menerangkan makna hadits di atas berucap, “Ketika hendak berkata-kata, berfikirlah terlebih dahulu. Jika ucapan itu tidak mengandung kemudharatan, maka berkatalah. Tapi bila mengandung kemudharatan atau keraguan, maka tahanlah diri”.

sebagaimana Allah sebutkan dalam firman-Nya,

ﺇِﻥَّ ﺍﻟﺴَّﻤْﻊَ ﻭَﺍﻟْﺒَﺼَﺮَ ﻭَﺍﻟْﻔُﺆَﺍﺩَ ﻛُﻞُّ ﺃُﻭﻟَٰﺌِﻚَ ﻛَﺎﻥَ ﻋَﻨْﻪُ ﻣَﺴْﺌُﻮﻭﻟًﺎ

‘Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggung-jawaban’ (QS. Al-Isra’:36)

ﻣَﺎ ﻳَﻠْﻔِﻆُ ﻣِﻦْ ﻗَﻮْﻝٍ ﺇِﻟَّﺎ ﻟَﺪَﻳْﻪِ ﺭَﻗِﻴﺐٌ ﻋَﺘِﻴﺪٌ

‘Tiada suatu kalimat pun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir’ (QS. Qaf :18)

Allahu’alam.

Semoga Allah selalu menjaga lisan kita dari hal-hal yang tidak berguna, agar tidak menuai sesal di hari akhir dengan tidak membawa amal sedikit pun dari jerih payah amal kita di dunia.

Cinta Tanpa Jeda

Terkadang cinta membawa kita larut jauh dalam impian-impian menyenangkan tentang masa depan. Tak jarang pula cinta membawa kita lupa untuk mensyukuri nikmat-nikmat kecil yang terbentang luas di hadapan. Layaknya seorang yang sedang jatuh cinta, dalam hari-hari kita, tak pernah ada kata istirahat dalam cinta. Segala hal yang kita lakukan menjadi indah karena cinta, setiap detik yang terlewati begitu menggebu dilalui. Semua itu karena cinta, kita bilang.

 

Cinta, dalam pandangan kita yang begitu indah ini, hanya akan membawa cerita bahagia, cerita suka cita, tanpa tangis.

 

Aku hanya sedang mencoba mengingat serpihan bahagia yang dibawa cinta. Dan ingatanku berhenti pada sebuah titik di suatu masa. Dimana hidup terasa begitu keras dan jahat, hari-hari seakan mematung, hatiku seolah tak mampu melewati jengkal demi jengkal kehidupan yang semakin terasa mencekik leher.

 

Ketika kesulitan-kesulitan itu menoleh ke arahku, seolah aku ingin segera berlari kencang agar kesulitan itu tak sampai padaku. Hingga ketika kesulitan demi kesulitan akhirnya berjalan beriringan dengan setiap cinta yang telah kubangun, ia kemudian mengikis satu per satu cinta yang kita sisihkan setiap harinya. Kesulitan yang datang, menyulap kebahagiaan yang aku tumpukan pada cinta sebelumnya.

 

Sungguh, nyatanya kesulitan tidak seburuk yang kulihat secara kasat mata. Terkadang, aku tutup mataku ketika kesulitan datang. Sehingga tak ada hikmah yang dapat aku petik dari sana. Kadang aku menjadi tidak bijak ketika sedang dilanda kesulitan. Seolah hidup begitu peliknya sampai tak ada jalan keluar yang tergambar. Hingga akhirnya, putus asa menjadi pilihan. Tak lagi hariku ada yang kulewati dengan menggebu karena kesulitan yang hadir.

 

Dan aku membatin, mencoba membuka hatiku lebih dalam. Mencoba mengetuk diri, bukankah kesulitan juga adalah cinta? Mungkin cinta yang aku inginkan sudah begitu lengkap menyatu dalam jiwa, tetapi aku butuh angin yang membawaku pada kerja keras mempertahankan cinta. Harus kuakui, mesulitan adalah cinta dalam bentuk yang lain. Hakikatnya itu adalah bentuk cinta yang lain dari Rabb Pemiliki Kehidupan.

Allah tak lantas membiarkanku memangku tangan setelah cinta yang kuinginkan telah kumiliki. Allah tak langsung membiarkanku hidup enak begitu saja tanpa kerja keras. Karena Allah mencintaiku dengan sebegitu hebatnya, hingga cintaNya hadir dalam berbagai wujud. Karena Allah mencintaiku dengan jarak yang begitu dekat, hingga kadang itu membuat kita merasainya dengan sangat jelas meski tak terlihat. Karena Allah ingin aku menjadi sosok pecinta yang sempurna, yang tidak hanya menerima utuh cinta tanpa usaha mendapatkannya. Sering aku bertanya, apakah Allah mencintaiku? Aku merasa hanya mendapat sedikit cinta dari Sang Pemilik Cinta, padahal sebenarnya sisanya Allah cicil lewat setiap kesulitan dan kemudahan yang berkejaran dalam hari-hariku selanjutnya. Kesulitan memberikan aku kesempatan membuktikan cintaku padaNya, karena saat kesulitan hadir tak jarang aku menjadi begitu lemah dan akhirnya lupa bahwa ada Allah yang adalah sebaik-baik penolong.

 

Setiap insan yang beriman, di belahan dunia manapun pasti senada dengan pernyataan bahwa kesulitan adalah bukti cinta Allah pada manusia. Kusadarkan diriku, bahwa sesungguhnya Allah tak memberikan kesulitan kecuali dengan cinta. Itu janjinya.

Karena sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. [QS. Al Insyirah (94) : 5-6]

Adakah janji yang lebih pasti dari janjiNya? Itu bukti cinta Allah padaku, pada seluruh muslim di dunia. Allah sediakan kesulitan sepaket dengan kemudahan yang diberikan. Sebagai penguat rasa cinta. Dengan begitu, bukankah itu membuktikan bahwa cintaNya tak pernah berjeda? Ya, hanya Allah yang senantiasa memberikan cinta tanpa jeda.

Much love, Eka.