Bunda, Aku Jatuh Cinta

Siang kemarin, saya mengamati anak yang menurut saya ‘berbeda’ belakangan ini. Ada sesuatu yang ‘tidak biasa’ dengannya menurut saya. Tiba-tiba ia jadi lebih ‘rajin’ melamun, sering senyum-senyum sendiri, bahkan anak pendiam ini tiba-tiba suka bernyanyi dan menulis puisi.

Malamnya, ia mengajak saya ngobrol via whatsapp. “Bun, aku pengen curhat tapi malu”, begitu isi chatnya. Setelah panjang lebar ngobrol mengenai sekolahnya, tiba-tiba ia mengirim chat berisi kalimat, “Bunda, aku lagi jatuh cinta nih”. Saya tersenyum, ternyata ini yang membuatnya jadi agak ‘berbeda’ belakangan ini. Lalu saya menjawabnya dengan kalimat, “wah anak bunda udah gede, udah ngerasain yang namanya falling in love. sama siapa atuh? kenalin dong perempuannya ke bunda”.

Saya terbiasa tidak langsung melarang anak-anak, maksud saya berusaha menempatkan diri di posisi mereka sehingga mereka lebih leluasa menceritakan perasaannya. Saya berusaha untuk tidak membuat sekat, se-‘horor’ apapun bahasannya, saya ingin anak-anak merasa memiliki teman bercerita yang dapat dipercaya bahkan untuk menceritakan hal-hal buruk yang sedang mereka ‘gandrungi’ sekalipun. Dengan membuat mereka percaya, saya akan lebih mudah membimbing mereka tanpa perlu ‘kepo’ atau menebak-nebak karena mereka yang menceritakannya sendiri.

Melihat perkembangan saat ini, tidak dapat dipungkiri media sosial, tayangan televisi, dan pergaulan sangat mempengaruhi perkembangan anak-anak. Mereka sudah ‘terbiasa’ mendengar kata pacaran, jatuh cinta, bahkan seperti kita lihat di berita-berita banyak anak di bawah umur yang gaya berpacarannya sudah seperti suami istri. Kita tidak sepenuhnya bisa menyalahkan atau melarang mereka, yang harus kita lakukan adalah membuat mereka paham bahwa hal tersebut belum waktunya mereka lakukan.

Lalu, jika anak mengatakan bahwa ia sedang jatuh cinta, apa yang bisa kita lakukan?

Menjadi sahabat bagi anak
Biasanya, ketika anak bercerita bahwa ia sedang jatuh cinta, saya menanggapi dengan obrolan santai seperti minta dikenalkan dengan orang yang disukainya, menyebutnya sudah besar, atau memintanya menceritakan seperti apa sih jatuh cinta itu. Kalau belum apa-apa kita sudah langsung melarang, anak pasti merasa tidak nyaman dan tidak mau bercerita pada kita. Apalagi remaja jaman sekarang lebih nyaman bercerita pada temannya dibanding dengan orang tuanya. Buang semua sekat komunikasi yang membuat mereka segan bercerita dengan kita, tapi dengan tetap tidak memaksa mereka untuk bercerita. Biarkan mereka bercerita sesuai keinginan mereka, jadilah pendengar yang baik, bukan mendengarkan mereka untuk menjawab mereka. Walaupun remaja jaman sekarang tidak begitu suka urusannya dicampuri oleh orang tua mereka, namun tetap sesekali mereka membutuhkan kita.

Katakan pada mereka itu adalah hal yang wajar
Beritahu mereka bahwa tertarik pada lawan jenis adalah hal yang wajar. Namun, tetap ajak mereka memahami bahwa menyukai lawan jenis bukan berarti harus berpacaran apalagi sampai bergantung kepada orang yang disukainya. Cobalah mengajak anak berdiskusi, jika jatuh cinta membuatnya lebih semangat bersekolah, bukan berarti ketika orang tersebut tidak menyukainya kemudian dia jadi tak lagi semangat bersekolah. Biarkan mereka merasakan emosi mereka, namun ajak mereka agar tetap rasional.

Arahkan ke dalam kegiatan yang lebih bermanfaat
Ketika anak sedang jatuh cinta, biasanya mereka jadi lebih puitis dari biasanya. Kenapa tidak kita bantu mereka untuk membuat puisi yang indah, siapa tau bisa menemukan bakatnya. Atau misalnya jatuh cinta membuat semangat belajarnya dua kali lipat dari biasanya, kenapa tidak kita bantu mereka untuk lebih aktif membahas pelajarannya? Atau misalnya kita ajak mereka membuat daily journal yang berisi cerita mengenai perasaannya setiap hari, hal ini akan membantu mereka belajar mengenali emosi mereka.

Lebih seru kan?
Akur dan bersahabat dengan si remaja, bukanlah hal yang sulit asalkan kita mau sama-sama mengerti kok ^^

Kuncinya, jangan pernah menyamakan jaman kita remaja dengan jaman remaja mereka saat ini, jelas beda! 😀

Much love,
Eka

Brief Chat #2 | Balance

Sesaat saya mengingat obrolan singkat kami di penghujung senja akhir bulan Desember lalu. Seperti yang pernah saya ceritakan di postingan sebelumnya disini, bahwa saya dan pasangan terbiasa ‘ngobrol’ tentang apapun yang menurut kami memang menarik untuk dibahas, seperti obrolan kami di rumah sore itu. Seringkali kami menemukan masalah yang dihadapi oleh siswa kami mengerucut pada pola asuh yang tak seimbang antara kedua orang tuanya. Menurutnya inilah fungsi pembagian peran ayah dan bunda dalam pengasuhan anak.

Saya setuju dengan pendapatnya, ibarat tanaman, ia akan tumbuh baik jika cukup disirami dengan air yang menyejukkan dan disinari tegasnya cahaya matahari. Bagitu pula dengan anak-anak, mereka akan tumbuh mempesona jika orang tua memberikan pengasuhan yang seimbang. Mereka perlu sosok tegas dan sosok lembut dari kedua orang tuanya. Ayah dan bunda perlu bekerjasama untuk menghadirkan karakter tersebut di hadapan anak-anak.

Tapi jangan salah, tak selalu karakter tegas muncul pada diri ayah, ada kalanya bunda perlu memperlihatkan ketegasan dirinya. Misalnya dalam urusan domestik seperti melatih anak-anak untuk membereskan tempat tidur mereka masing-masing saat mereka bangun tidur.

Pun karakter lembut juga sesekali perlu ditampakkan oleh ayah. Misalnya ketika anak-anak sedang mengalami masalah, berikan pelukan yang hangat untuk menenangkannya. Hal itu tak hanya bisa membantu anak untuk berkembang, tapi juga merupakan proses bonding antara orang tua dan anak-anak. Sehingga anak menyadari bahwa orang tua mereka adalah sahabat terbaik bagi mereka.

Lalu muncul pertanyaan, bagaimana dengan single parent yang sendiri dalam membesarkan anak mereka?

Jika para single parent boleh memilih, saya yakin mereka akan lebih memilih berdua. Tapi jangan khawatir, bunda Khadijah RA pun pernah menjadi single parent selepas Atique bin Aith (suaminya) meninggal, sebelum ia bertemu dengan Rasulullah.  Bahkan beliau mampu membagi perannya tak hanya di rumah, namun juga dalam pekerjaan luar rumah sebagai womanpreneur. Ya, bukan tak mungkin menjadi single parent membuat peran ayah/ bunda menjadi tidak sesuai dengan porsi yang harus didapatkan oleh anak-anak. Menjadi single fighter berarti ayah/ bunda perlu men-double-kan perannya untuk anak-anak. Sesekali munculkan karakter tegas dan karakter lembut di hadapan anak. Mungkin sulit, tapi jika dibiasakan, in syaa Allah upaya yang dilakukan tak akan pernah luput dari kalkulasi Allah.

Intinya, mereka memerlukan keseimbangan pola asuh. Kita tidak bisa memaksa anak untuk tumbuh dalam pola asuh yang keras, namun tak boleh pula kita mendidik mereka dengan terlalu memanjakan mereka. Ya, semua ada porsinya. Dengan begitu, mereka akan tumbuh dengan baik. Pun ayah dan bunda, akan senantiasa belajar dengan baik seiring menyaksikan pertumbuhan mereka.

Look at Me as I

Hari ini, seorang anak menghampiri saya dengan terisak. Biasanya ia adalah seorang anak yang ceria dan sangat jarang saya melihatnya se-murung ini. Tetapi beberapa hari ini saya melihatnya seperti orang lain yang tidak saya kenal. Sifat cerianya hilang, semangat belajar menurun, dan ia menutup diri dari teman-temannya.

“Bunda, saya tidak betah di rumah. Saya tidak mau pulang ke rumah lagi.”

Disela isak tangis, ia mengatakannya. Setelah diajak bicara, akhirnya anak ini menceritakan bahwa ia tidak betah karena di rumahnya ia selalu dibanding-bandingkan oleh orang tuanya.

Ah, nampaknya masalah ini sepele. Tapi siapa sangka, ternyata hal tersebut adalah pemicu stress nomor 1 bagi dirinya. Sekecil itu masalahnya? Ya, sesederhana itu hingga dapat merubah sikap si anak.

Ini merupakan peer sekaligus refleksi besar bagi saya dan bagi para orang tua. Sebagai orang tua, kita seringkali menganggap bahwa dengan membandingkan anak dengan anak lainnya merupakan sebuah cara yang efektif untuk memotivasi sang anak agar dapat melakukan hal yang selama ini tidak bisa mereka lakukan. Pada kenyataannya, disaat yang bersamaan justru kita sedang mengajarkan sebuah kompetisi yang buruk dan tidak sehat. Competitiveness definitely is a driving force towards performance. But is this working for your child? 🙂

Hal yang harus kita pahami adalah, sikap terlalu ingin bersaing dan membandingkan bisa membuat kita stres. Sikap ini juga membuat kita kurang menghargai apa yang sudah dicapai anak.  Dan akan muncul perasaan tidak dihargai atau tidak dianggap yang dapat membuat anak tertekan secara psikis.

Tahapan tumbuh kembang setiap anak begitu bervariasi dan setiap tahapan unik. Nikmati dan hargai kemampuan anak pada saat ini. Dan teruslah ingatkan diri kita sendiri, bahwa kita tak bisa memaksa anak mencapai kemampuan tertentu jika mereka belum siap. Dampingi mereka, lihatlah perubahan yang terjadi pada anak, sesedikit apapun itu. Lihat mereka sebagai diri mereka sendiri, bukan sebagai anak lain. If your child couldn’t score well, don’t make them feel that they has let you down or embarrassed you. Always support your child. Encourage them to practice more and always appreciate their efforts.

Remember that every child is unique, they have different levels of interests, different strengths and weaknesses. 

Quality Time

Bila saat weekdays sulit untuk memiliki quality time antara ayah, bunda, dan anak-anak, cobalah sempatkan menderai tawa dan canda di akhir pekan.

 

Bunda sejenak jeda dari komunitasnya,

Ayah sejenak jeda dari tuntutan kantornya.

 

Simpan semua gadget,

rangkul mereka,

ajak mereka berbicara,

dari hati ke hati.

 

Berikan mereka perhatian yang utuh,

tanpa terbagi.

 

Cintai mereka,

tanpa syarat,

tanpa jarak,

tanpa jeda.

 

Much love, Eka.

Reflection on Being an Elder Sisters

People are always learning and growing. And growing up as an older sister can be difficult sometimes. Have two siblings was a pretty great experience.

Since i’m the eldest, parents expect a lot from me. Like living, life, make a decision, doing everything’s right, etc. Sometimes, it’s so difficult and hard to live up their expectation. I must being a role model (whether i like or not) for my sisters. That’s no small responsibility. It’s make me want to be a better person than i am now. 

As the eldest, i have someone look up to me as much as she does and respect me. There’s someone in the world who loves me and depends on me. That’s a challenge to me to be my best self for them.

When i’m being a big sister, i learned how’s the feeling to care about someone more than i cared about my self. There was times when mom and dad wasn’t around, i had to be the parents to my siblings.

Having sibling is probably one of the greatest experience in my life and i’m blessed have them. Ega is an ambitious sister, she always serious. But when she makes a joke, it’s always make me can’t stop laughing. She is my best friend. I always share and discuss about anything with her. I can always to go her for anything that’s on my mind, we’ve always been close through everything.

My little sister, Ay, is always find something to make me angry. She love to sing and wanna be an artist when she was little. She is very ‘noisy’, haha. But i think, i can see my self in those innocent eyes because she is a part of me.

My sisters mean the world to me. I want to protect them. I feel their fears, their hope, and dreams. I want to protect them from everything, take away any pain they might feel. I want to be they greatest supporter, i’ll fight for them when they can’t fight for herself.

I learned, that love isn’t selfish. But love allows the person to grow. To love someone is want the best for them. I want to always help them become the best version of they can be. But since i want them to be their best self, i need to be my best self too.

Being a big sister has been the best gift my parent could ever have given me. No matter what happens when we get older and grow up, we’re always going to be there for each other, I know they will always been there for me until the end.

They See Us, They Copy Us

Kata disiplin berasal dari bahasa Latin, discipulus, yang berarti “pembelajar”. Jadi disiplin itu sebenarnya difokuskan pada pengajaran. Dari pengertian tersebut, dapat kita maknai bahwa disiplin berarti melakukan pengasuhan terhadap tingkah laku anak. Membicarakan kedisiplinan memang tak ada habisnya. Disiplin memang merupakan hal yang sulit. Terkadang disiplin adalah proses bagi orang tua untuk belajar berempati dan mengendalikan diri, karena terkadang secara tidak sengaja mungkin kita memakai cara-cara klasik yang biasa digunakan untuk mendisiplinkan anak seperti memberi hukuman, ancaman, bahkan hingga melakukan kekerasan fisik.

Padahal, cara-cara klasik tersebut sangatlah berbeda dengan disiplin. Hukuman mungkin dapat digunakan untuk menghentikan perilaku anak yang kurang baik atau tidak sesuai. Ketika anak diberikan hukuman, kebanyakan dari mereka akan melaksanakan hukuman tersebut karena terpaksa. Ya, secara emosional mereka terpaksa mematuhi hukuman tersebut. Namun, dengan memberikan hukuman, tidak menjamin bahwa perilaku tersebut akan hilang seterusnya.

Sementara disiplin merupakan proses pemberian nilai-nilai agar anak dapat belajar dari kesalahannya. Dengan harapan, perilaku tersebut tidak akan muncul lagi di kemudian hari. Disiplin adalah proses membantu agar anak dapat belajar dalam bertindak agar ia pun ‘belajar’ mengenai akibat dari perbuatannya sendiri.

Melatih anak disiplin berarti menjaga komunikasi yang baik dan sehat dengan anak, memantau perkembangan anak dari waktu ke waktu, dan mungkin bisa membuat semacam ‘peraturan kecil’ mengenai batasan perilaku anak. Jika saat ini Indonesia sedang gencar membudayakan literasi bagi anak-anak, maka ingatlah bahwa kita sebagai orang tua adalah salah satu ‘buku teks’ yang mereka baca setiap hari dan selalu mereka ingat.

Ketika orang tua menetapkan ‘peraturan kecil’ pada anak pun harus disesuaikan dengan kemampuan anak dan konsistensi orang tua. Terkadang orang tua tidak adil dalam menerapkan peraturan. Contoh sederhananya, ketika sakit tidak boleh makan-makanan yang dilarang oleh dokter. Ketika anak sakit demam, biasanya orang tua akan melarang mereka makan ice cream. Lalu, pada saat bersamaan orang tua pun sedang sakit batuk namun orang tuanya makan gorengan, padahal jika mereka batuk, mereka dilarang makan gorengan. Anak mungkin ada yang langsung merespon “Ayah kan lagi batuk, kenapa makan gorengan? Kan ngga boleh?”. Kebanyakan orang tua akan menanggapi dengan alasan yang membuat anak akhirnya menerima bahwa hal tersebut tidak salah.

Ketika anak melanggar hal tersebut maka orang tua akan menilai bahwa perilaku tersebut salah. Tapi ketika orang tua yang melanggarnya, mereka memiliki beragam alasan yang menurut mereka masuk akal dan mau tidak mau anak harus menerima bahwa orang tuanya tidak salah. Anak seolah dipaksa untuk mengerti dan memahami orang tuanya tanpa mempertimbangkan kemampuan anak itu sendiri.

Contoh lainnya, anak dilarang menonton televisi hingga larut malam. Tetapi orang tuanya justru mencontohkan hal tersebut. Maka anak akan bertanya-tanya dalam benaknya, kenapa orang tua boleh sementara ia tidak. Kita menyuruh anak kita agar sholat 5 waktu tepat waktu, tapi bahkan kita terlalu asik dengan pekerjaan hingga lupa sholat tepat waktu.

Mereka akan melihat hubungan sebab akibat yang muncul, misalnya ketika mereka salah mereka akan dihukum dengan dimarahi. Secara tidak langsung, hal tersebut akan diterjemahkan oleh anak dalam pikirannya sendiri. Jika tidak ada penjelasan dari orang tua, maka jangan heran atau kaget jika suatu hari nanti anak akan marah ketika ia menganggap sesuatu salah atau tidak sesuai dengan yang diinginkannya.

Di dalam rumah, anak belajar dari orang tuanya. They see us and copy us. Anak-anak membutuhkan konsistensi kita sebagai orang tua terhadap aturan-aturan yang telah kita terapkan. Jika orang tua tidak konsisten, aturan tak akan lagi membatasi mereka. Bisa jadi bagi mereka aturan yang kita buat hanya dianggap gertakan sambel. Ya, satu lagi makna disiplin yang kita dapatkan. Disiplin juga berbicara mengenai disiplin orang tua dalam mematuhi rules yang dibuatnya sendiri.

Kita harus menyadari bahwa anak-anak adalah cerminan diri kita. Sekeras apapun aturan kita, seberat apapun hukumannya, jika mereka tidak memiliki sosok yang dapat  dijadikan contoh yang baik untuk ditiru, maka jangan salahkan mereka jika mereka tidak disiplin.

Mendidik bukan berarti kita harus menghardik, mendidik berarti memberikan cinta sepenuhnya.

Melatih anak agar bisa memahami tidak sama dengan menghakimi, tapi berikan contoh agar mereka bisa menerimanya.

Rangkul mereka, jangan memukul. Agar mereka belajar, bahwa disiplin adalah sesuatu yang harus mereka pelajari dan mereka terapkan dalam kehidupan mereka.