They See Us, They Copy Us

Kata disiplin berasal dari bahasa Latin, discipulus, yang berarti “pembelajar”. Jadi disiplin itu sebenarnya difokuskan pada pengajaran. Dari pengertian tersebut, dapat kita maknai bahwa disiplin berarti melakukan pengasuhan terhadap tingkah laku anak. Membicarakan kedisiplinan memang tak ada habisnya. Disiplin memang merupakan hal yang sulit. Terkadang disiplin adalah proses bagi orang tua untuk belajar berempati dan mengendalikan diri, karena terkadang secara tidak sengaja mungkin kita memakai cara-cara klasik yang biasa digunakan untuk mendisiplinkan anak seperti memberi hukuman, ancaman, bahkan hingga melakukan kekerasan fisik.

Padahal, cara-cara klasik tersebut sangatlah berbeda dengan disiplin. Hukuman mungkin dapat digunakan untuk menghentikan perilaku anak yang kurang baik atau tidak sesuai. Ketika anak diberikan hukuman, kebanyakan dari mereka akan melaksanakan hukuman tersebut karena terpaksa. Ya, secara emosional mereka terpaksa mematuhi hukuman tersebut. Namun, dengan memberikan hukuman, tidak menjamin bahwa perilaku tersebut akan hilang seterusnya.

Sementara disiplin merupakan proses pemberian nilai-nilai agar anak dapat belajar dari kesalahannya. Dengan harapan, perilaku tersebut tidak akan muncul lagi di kemudian hari. Disiplin adalah proses membantu agar anak dapat belajar dalam bertindak agar ia pun ‘belajar’ mengenai akibat dari perbuatannya sendiri.

Melatih anak disiplin berarti menjaga komunikasi yang baik dan sehat dengan anak, memantau perkembangan anak dari waktu ke waktu, dan mungkin bisa membuat semacam ‘peraturan kecil’ mengenai batasan perilaku anak. Jika saat ini Indonesia sedang gencar membudayakan literasi bagi anak-anak, maka ingatlah bahwa kita sebagai orang tua adalah salah satu ‘buku teks’ yang mereka baca setiap hari dan selalu mereka ingat.

Ketika orang tua menetapkan ‘peraturan kecil’ pada anak pun harus disesuaikan dengan kemampuan anak dan konsistensi orang tua. Terkadang orang tua tidak adil dalam menerapkan peraturan. Contoh sederhananya, ketika sakit tidak boleh makan-makanan yang dilarang oleh dokter. Ketika anak sakit demam, biasanya orang tua akan melarang mereka makan ice cream. Lalu, pada saat bersamaan orang tua pun sedang sakit batuk namun orang tuanya makan gorengan, padahal jika mereka batuk, mereka dilarang makan gorengan. Anak mungkin ada yang langsung merespon “Ayah kan lagi batuk, kenapa makan gorengan? Kan ngga boleh?”. Kebanyakan orang tua akan menanggapi dengan alasan yang membuat anak akhirnya menerima bahwa hal tersebut tidak salah.

Ketika anak melanggar hal tersebut maka orang tua akan menilai bahwa perilaku tersebut salah. Tapi ketika orang tua yang melanggarnya, mereka memiliki beragam alasan yang menurut mereka masuk akal dan mau tidak mau anak harus menerima bahwa orang tuanya tidak salah. Anak seolah dipaksa untuk mengerti dan memahami orang tuanya tanpa mempertimbangkan kemampuan anak itu sendiri.

Contoh lainnya, anak dilarang menonton televisi hingga larut malam. Tetapi orang tuanya justru mencontohkan hal tersebut. Maka anak akan bertanya-tanya dalam benaknya, kenapa orang tua boleh sementara ia tidak. Kita menyuruh anak kita agar sholat 5 waktu tepat waktu, tapi bahkan kita terlalu asik dengan pekerjaan hingga lupa sholat tepat waktu.

Mereka akan melihat hubungan sebab akibat yang muncul, misalnya ketika mereka salah mereka akan dihukum dengan dimarahi. Secara tidak langsung, hal tersebut akan diterjemahkan oleh anak dalam pikirannya sendiri. Jika tidak ada penjelasan dari orang tua, maka jangan heran atau kaget jika suatu hari nanti anak akan marah ketika ia menganggap sesuatu salah atau tidak sesuai dengan yang diinginkannya.

Di dalam rumah, anak belajar dari orang tuanya. They see us and copy us. Anak-anak membutuhkan konsistensi kita sebagai orang tua terhadap aturan-aturan yang telah kita terapkan. Jika orang tua tidak konsisten, aturan tak akan lagi membatasi mereka. Bisa jadi bagi mereka aturan yang kita buat hanya dianggap gertakan sambel. Ya, satu lagi makna disiplin yang kita dapatkan. Disiplin juga berbicara mengenai disiplin orang tua dalam mematuhi rules yang dibuatnya sendiri.

Kita harus menyadari bahwa anak-anak adalah cerminan diri kita. Sekeras apapun aturan kita, seberat apapun hukumannya, jika mereka tidak memiliki sosok yang dapat  dijadikan contoh yang baik untuk ditiru, maka jangan salahkan mereka jika mereka tidak disiplin.

Mendidik bukan berarti kita harus menghardik, mendidik berarti memberikan cinta sepenuhnya.

Melatih anak agar bisa memahami tidak sama dengan menghakimi, tapi berikan contoh agar mereka bisa menerimanya.

Rangkul mereka, jangan memukul. Agar mereka belajar, bahwa disiplin adalah sesuatu yang harus mereka pelajari dan mereka terapkan dalam kehidupan mereka.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s