My Hijrah Story

Bismillahirahmanirahim.

 

Sore ini, saya tiba-tiba teringat ke masa awal saya memutuskan untuk hijrah. Alhamdulillah, it’s been 12 years since I officially wearing hijab. Sudah lama saya ingin menuliskan pengalaman hijrah saya di blog, tapi baru terlaksana sekarang. Semoga tulisan saya bermanfaat, saya sama sekali tidak bermaksud menggurui, hanya sekedar ingin sharing.

 

Alhamdulillah, Allah berikan saya kesempatan untuk menerima hidayah-Nya di usia saya yang masih muda, masih berstatus sebagai seorang siswa SMP. Tepat di bulan Oktober 12tahun yang lalu, saya memutuskan untuk menggunakan hijab. Why? Saya punya keinginan tentang keluarga saya. Pada bulan September saat itu, saya sedang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler agama Islam dan saya merasa dari sanalah awal saya memutuskan untuk hijrah. Ada seorang guru mengatakan, “Kalian harus jadi anak yang soleh, karena doa anak soleh-lah yang didengar oleh Allah”. Saya tak begitu memahami apa maksudnya soleh, seperti apa anak soleh itu. Dalam bayangan saya, anak soleh adalah anak yang rajin pergi ke madrasah, tidak suka bermain, dan selalu mencium tangan orang tua sebelum pergi. Tapi ternyata tidak sesederhana itu.

 

Sebulan kemudian, ada kegiatan pesantren kilat di sekolah. Pada waktu sholat jum’at, kami siswa perempuan mengikuti diskusi keputrian. Disinilah saya akhirnya mengetahui seperti apa anak soleh dan bagaimana caranya agar saya bisa masuk dalam kategori anak soleh. Tapi salah satu cara yang menurut saya sulit, adalah mengenakan jilbab!

 

Bagi saya saat itu, hidup di ibukota dengan mengenakan jilbab sama dengan kuno, ketinggalan jaman, dan ngga keren! Di rumah, hanya nenek yang berjilbab. Di sekolah? Tak satupun teman saya berjilbab. Guru-guru hanya sedikit yang berjilbab, masih dalam hitungan jari. Tapi saya masih penasaran, bagaimana rasanya mengenakan jilbab. Saya masih ingin menjadi anak soleh agar doa saya didengar Allah.

 

Akhirnya karena keinginan saya begitu besar dan ingin segera terwujud, tanggal 10 Oktober, saya memutuskan untuk mengenakan jilbab ke sekolah. Saat itu saya hanya merasa harus memakai jilbab agar Allah kabulkan doa saya. Saya masih berjilbab dengan pakaian yang seadanya. Menggunakan baju seragam sekolah yang pendek ditutup dengan manset panjang, jilbab segiempat putih milik nenek saya, dan rok biru panjang yang saya pinjam dari tetangga yang sudah lulus SMP. Keputusan saya untuk berjilbab ternyata tidak lantas diterima dengan mudah oleh orang-orang di sekitar saya. Ibu saya tidak setuju, alasannya sederhana, karena ibu saya tak punya biaya untuk membelikan saya seragam baru yang saat itu memang harga baju muslim masih sangat mahal. Selain itu, ibu saya merasa saya masih anak-anak dan belum paham makna berjilbab yang benar. Beberapa saudara saya pun sempat tidak menyetujui, alasannya “jilbabkan hatinya dulu”, masih terlalu kecil buat berjilbab, lancarkan ngajinya dulu, dan yang lebih ekstrim “kamu tidak tinggal di Mekkah atau Madinah, jadi tak harus memakai jilbab”. Tapi saya cuek saja, saya merasa punya ‘misi’ sendiri dengan jilbab saya.

 

Alhamdulillah, Allah izinkan keinginan saya terwujud. Bapa yang sudah tiga bulan tak ada di rumah, sudah berkumpul kembali dengan kami. Itulah keinginan yang saya pinta pada Allah. Dan saya tak lagi menunggunya di pinggir jendela kamar setiap malam.

 

Setelah keinginan saya telah terpenuhi, saya jadi bertanya pada diri sendiri. Mau saya apakan jilbab ini, apakah saya lepas atau terus saya pakai. Saya merasa bosan dengan pakaian yang menurut saya kuno ini. Tapi malu juga rasanya kalau saya lepas lagi. Hingga kemudian ibu saya dan beberapa saudara membelikan saya banyak baju muslim.

MasyaAllah, Allah Yang Maha Melembutkan Hati. Baju yang dibelikan untuk saya ngga kuno, warnanya pun ngga tua, dan modelnya bagus-bagus. Dengan berbekal semua baju tersebut, saya akhirnya semakin mantap untuk berjilbab. Walaupun masih belum menutup dada, tapi setidaknya saya sudah melakukan yang seharusnya saya lakukan sebagai seorang muslimah.

 

Dan perubahan-perubahan juga semakin banyak saya rasakan. Sholat yang tadinya bolong-bolong dan membaca Al Qur’an yang tadinya malas -meskipun awalnya saya lakukan karena malu dengan jilbab yang saya pakai- tapi alhamdulillah itu membuat saya untuk tak lagi meninggalkan sholat dan membaca Al Qur’an minimal 1 lembar per hari. Saya tidak lagi suka pulang terlambat ke rumah. Tak lagi suka marah-marah. Jilbab inilah yang membawa saya menjadi lebih baik, insyaaAllah.

 

Alhamdulilah, Allah memudahkan saya. Meskipun ditentang, saya masih mengenakannya hingga saat ini dan alhamdulillah kini mayoritas keluarga saya sudah berhijab. Maha Suci Allah Yang Maha Membolak-balikkan Hati Manusia..

 

Kesiapan untuk hijrah memang berbeda-beda pada semua orang, tapi entah kenapa saya lebih suka mendengar kalimat “saya belum siap berjilbab sekarang” daripada “saya mau jilbabkan hati saya dulu, mau perbaiki dulu, rajin sholat dulu, lancar ngaji dulu, de el el”. Pertanyaannya kapan semua itu selesai diperbaiki?

 

Berhijab tak berarti kita ini sempurna kok, justru dengan berhijab kita sebenarnya sedang berusaha menyempurnakan ketaatan kita pada Allah.

Setelah berjilbab, perilaku, tutur kata, dan ibadah kita dengan sendirinya akan lebih baik, itu yang saya rasakan. Hingga saat ini, saya masih belum mencapai kategori anak soleh dan belum berjilbab dengan benar. Tapi, semoga kita dan saya terutama, terus melangkah ke arah yang lebih baik ya!

Much love, Eka.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s