Berkata Baik atau Diam

Jika tak yakin kata yang diucapkan menjadi pemberat catatan amal, diamlah yang harus menjadi pilihan.

Kita sering lupa untuk menahan diri dari berkata-kata yang tidak perlu. Apalagi kehidupa sekarang yang dipenuhi aneka media sosial, semua orang berbondong-bondong menuliskan apapun di media sosial. Begitu ‘bebas’nya kita menulis, kadang kita tak sadar kata-kata kita telah menyakiti hati saudara kita.

Sering kita lupa untuk menahan diri dari membicarakan saudara kita sendiri. Kita merasa benar, sehingga merasa tak perlu berupaya untuk bertabayun pada saudara kita.

Siapa beriman kepada Allah dan hari kemudian, maka hendaklah ia berkata baik atau diam (Muttafaq‘alaih).

Imam Syafi’i ketika menerangkan makna hadits di atas berucap, “Ketika hendak berkata-kata, berfikirlah terlebih dahulu. Jika ucapan itu tidak mengandung kemudharatan, maka berkatalah. Tapi bila mengandung kemudharatan atau keraguan, maka tahanlah diri”.

sebagaimana Allah sebutkan dalam firman-Nya,

ﺇِﻥَّ ﺍﻟﺴَّﻤْﻊَ ﻭَﺍﻟْﺒَﺼَﺮَ ﻭَﺍﻟْﻔُﺆَﺍﺩَ ﻛُﻞُّ ﺃُﻭﻟَٰﺌِﻚَ ﻛَﺎﻥَ ﻋَﻨْﻪُ ﻣَﺴْﺌُﻮﻭﻟًﺎ

‘Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggung-jawaban’ (QS. Al-Isra’:36)

ﻣَﺎ ﻳَﻠْﻔِﻆُ ﻣِﻦْ ﻗَﻮْﻝٍ ﺇِﻟَّﺎ ﻟَﺪَﻳْﻪِ ﺭَﻗِﻴﺐٌ ﻋَﺘِﻴﺪٌ

‘Tiada suatu kalimat pun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir’ (QS. Qaf :18)

Allahu’alam.

Semoga Allah selalu menjaga lisan kita dari hal-hal yang tidak berguna, agar tidak menuai sesal di hari akhir dengan tidak membawa amal sedikit pun dari jerih payah amal kita di dunia.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s