Look at Me as I

Hari ini, seorang anak menghampiri saya dengan terisak. Biasanya ia adalah seorang anak yang ceria dan sangat jarang saya melihatnya se-murung ini. Tetapi beberapa hari ini saya melihatnya seperti orang lain yang tidak saya kenal. Sifat cerianya hilang, semangat belajar menurun, dan ia menutup diri dari teman-temannya.

“Bunda, saya tidak betah di rumah. Saya tidak mau pulang ke rumah lagi.”

Disela isak tangis, ia mengatakannya. Setelah diajak bicara, akhirnya anak ini menceritakan bahwa ia tidak betah karena di rumahnya ia selalu dibanding-bandingkan oleh orang tuanya.

Ah, nampaknya masalah ini sepele. Tapi siapa sangka, ternyata hal tersebut adalah pemicu stress nomor 1 bagi dirinya. Sekecil itu masalahnya? Ya, sesederhana itu hingga dapat merubah sikap si anak.

Ini merupakan peer sekaligus refleksi besar bagi saya dan bagi para orang tua. Sebagai orang tua, kita seringkali menganggap bahwa dengan membandingkan anak dengan anak lainnya merupakan sebuah cara yang efektif untuk memotivasi sang anak agar dapat melakukan hal yang selama ini tidak bisa mereka lakukan. Pada kenyataannya, disaat yang bersamaan justru kita sedang mengajarkan sebuah kompetisi yang buruk dan tidak sehat. Competitiveness definitely is a driving force towards performance. But is this working for your child? 🙂

Hal yang harus kita pahami adalah, sikap terlalu ingin bersaing dan membandingkan bisa membuat kita stres. Sikap ini juga membuat kita kurang menghargai apa yang sudah dicapai anak.  Dan akan muncul perasaan tidak dihargai atau tidak dianggap yang dapat membuat anak tertekan secara psikis.

Tahapan tumbuh kembang setiap anak begitu bervariasi dan setiap tahapan unik. Nikmati dan hargai kemampuan anak pada saat ini. Dan teruslah ingatkan diri kita sendiri, bahwa kita tak bisa memaksa anak mencapai kemampuan tertentu jika mereka belum siap. Dampingi mereka, lihatlah perubahan yang terjadi pada anak, sesedikit apapun itu. Lihat mereka sebagai diri mereka sendiri, bukan sebagai anak lain. If your child couldn’t score well, don’t make them feel that they has let you down or embarrassed you. Always support your child. Encourage them to practice more and always appreciate their efforts.

Remember that every child is unique, they have different levels of interests, different strengths and weaknesses. 

Advertisements

tentang cinta

dan tentang cinta,

di antara kita tak ada yang lebih pandai,

bukan?
karena cerita kita,

adalah terus belajar bersama 

agar jatuh cinta

dan bangun cinta

menjadi kebiasaan

tanpa henti.
karena cerita kita,

adalah terus belajar percaya

bahwa jarak yang ada

selalu memeluk rindu

tanpa pernah usai.
dan karena cerita kita,

adalah mozaik-mozaik harapan

yang menenun setiap kata

menjadi do’a yang diestafetkan,

yang merajut setiap rindu

menjadi sujud yang romantis,

yang mengecup setiap langkah

menjadi ikhtiar yang menyambut kita.

karena cinta bisa diterjemahkan dalam bahagia yang sederhana, bukan?

membuat kita selalu bertahan,

jatuh cinta setiap waktu.

Rindu

setiap gerakmu adalah catatan yang tak lekang dari masa

sehari saja kita bertemu

seribu keindahan terbenam dalam hati

 

aku terlelap tidur tanpa mimpi

karena terlalu banyak kenangan kita yang tumpah setiap hari

hingga malamku pun terlewati tanpa angan dan khayal lagi

 

rindu menggerutu ingin bertemu denganmu

Celoteh Senja #1

Kemarin benar-benar hari yang melelahkan. Sejak pagi hari, saya sudah merasa sangat penat dan sedikit lelah. Mungkin dipengaruhi oleh kondisi fisik saya yang memang belum sepenuhnya fit pasca sakit beberapa hari yang lalu, ditambah beberapa deadline tugas yang terus memburu, belum lagi rutinitas sehari-hari yang entah kenapa terasa menjemukan belakangan ini.

Di pagi hari, saya menghadiri pembinaan guru bimbingan konseling wilayah Bandung Selatan yang diadakan oleh pengawas BK dari Dinas Pendidikan Kota Bandung. Alhamdulillaah, kepenatan sedikit berkurang karena saya bertemu dengan banyak teman disana dan mendapatkan banyak ilmu baru. Meskipun saya masih merasa bad mood.

Pasca kegiatan pembinaan, saya dibuat shock dengan list laporan yang harus saya buat untuk dilaporkan ke bapak-ibu pengawas. Ada sekitar 20 laporan yang harus saya selesaikan dalam waktu 3 hari, hari selasa semua laporan itu harus sudah terkirim ke email pengawas. Subhanallah!

Setelah kegiatan selesai, saya langsung estafet untuk rapat pengurus MGBK Bandung Selatan. Disanalah semua unek-unek tentang pekerjaan bisa dikeluarkan. Memang tidak menyelesaikan masalah, tapi setidaknya saya lebih plong setelah menyampaikan segala keluh kesah. Mungkin saat itu saya hanya ingin didengarkan. Tetapi, setelah menuntaskan rapat ternyata kami dibekali tugas baru dan deadline baru. Kalau kata orang sunda, wayahna. Namanya juga pengurus.

Begitu rapat usai, saya langsung bergegas pulang menuju kost-an. Rasanya ingin berbaring dan mengistirahatkan badan yang lelah sekali hari ini. Namun begitu sampai di kamar, rasa jenuh tidak juga hilang. Akhirnya saya mengajak teman saya untuk berburu kudapan ringan di sekitar kost. Begitu selesai ‘berbelanja’, saya mengajak beberapa orang teman untuk main ke kost-an. Alhamdulillaah, begitu mereka sampai, suasana jadi lebih hangat dan menyenangkan. Kami membahas banyak hal, dari hal-hal yang ringan hingga masalah-masalah yang cukup ‘berat’ yang kami hadapi. Bahkan obrolan kami juga semakin bermakna dengan pembahasan beberapa ‘materi’ yang membuat kami serasa sedang kuliah. Dan berkat mereka, mood saya benar-benar menjadi lebih baik. Ya, bahagia memang sederhana. Sesederhana sore ini bersama mereka, between our laughs, long talks, stupid fights, and silly jokes haha.

Saya tersenyum, seakan-akan ingin memeluk mereka dan berbisik “Great job, guys!”
Thank you for cheering me up, dear friends!

Flash Thoughts at 04.43 am

Perspective is an interesting thing.

Look at that picture. You may see two faces while another may see a vase. Both people are 100% honest and truthful and they are also both right, at least according to their perspective. Yup, an extremely important thing in communication is to understand that everybody speaks (and can only really do so) from her/his perspective. Our perception is depends on our perspective.

The best way you can do to deal with that is by empathic listening. This means that you listen to the other person and try to see the world as he/she sees it. This doesn’t mean that you give up your perspective. It means that you add another viewpoint.

The process of personal growth is also the process of broadening your own perspective. It is the process of becoming aware of deeper principles and of including more than our own ego into our perspective. And seeing different perspectives will help to reduce distressing emotions, help us feel more confident, enable us to be more understanding and empathic, and improve communication and relationships.

Yup, perspective isn’t so much about what we look at, but it is more about where we look from.

 

Quality Time

Bila saat weekdays sulit untuk memiliki quality time antara ayah, bunda, dan anak-anak, cobalah sempatkan menderai tawa dan canda di akhir pekan.

 

Bunda sejenak jeda dari komunitasnya,

Ayah sejenak jeda dari tuntutan kantornya.

 

Simpan semua gadget,

rangkul mereka,

ajak mereka berbicara,

dari hati ke hati.

 

Berikan mereka perhatian yang utuh,

tanpa terbagi.

 

Cintai mereka,

tanpa syarat,

tanpa jarak,

tanpa jeda.

 

Much love, Eka.

Sepasang Kaus Kaki

Mungkin hijrah kita bisa dimulai dari kaki. Ya, dari kaki. Berawal dari sepasang kaus kaki yang menutup rapi aurat kita (read: kaki).

 

Kaki juga aurat? Iya, shalihat.. 🙂 Jika merujuk pada hadist berikut ini ternyata kaki kita juga aurat, lho.

 

Diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiallahu‘anha , beliau berkata,

ﺃَﻥَّ ﺃَﺳْﻤَﺎﺀَ ﺑِﻨْﺖَ ﺃَﺑِﻲ ﺑَﻜْﺮٍ ﺩَﺧَﻠَﺖْ ﻋَﻠَﻰ ﺭَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻭَﻋَﻠَﻴْﻬَﺎ ﺛِﻴَﺎﺏٌ ﺭِﻗَﺎﻕٌ ﻓَﺄَﻋْﺮَﺽَ ﻋَﻨْﻬَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻭَﻗَﺎﻝَ ﻳَﺎ ﺃَﺳْﻤَﺎﺀُ ﺇِﻥَّ ﺍﻟْﻤَﺮْﺃَﺓَ ﺇِﺫَﺍ ﺑَﻠَﻐَﺖِ ﺍﻟْﻤَﺤِﻴﺾَ ﻟَﻢْ ﺗَﺼْﻠُﺢْ ﺃَﻥْ ﻳُﺮَﻯ ﻣِﻨْﻬَﺎ ﺇِﻟَّﺎ ﻫَﺬَﺍ ﻭَﻫَﺬَﺍ ﻭَﺃَﺷَﺎﺭَ ﺇِﻟَﻰ ﻭَﺟْﻬِﻪِ ﻭَﻛَﻔَّﻴْﻪِ

Asma’ binti Abu Bakar pernah menemui Rasulullah shallallahu‘alaihi wasallam dengan memakai pakaian yang tipis. Maka Rasulullah shallallahu‘alaihi wasallam pun berpaling darinya dan bersabda, “ wahai Asma’, sesungguhnya seorang wanita itu jika sudah haidh (sudah baligh), tidak boleh terlihat dari dirinya kecuali ini dan ini ”, beliau menunjuk wajahnya dan kedua telapak tangannya. (HR. Abu Daud 4140, Al Albani berkata hadist ini hasan)

 

Hijrah bisa dimulai dari kaus kaki yang kita pakai. Mungkin awalnya supaya kaki ngga lecet saat pakai sepatu, supaya kaki bersih dari kotoran, atau mungkin juga sekedar ikut-ikutan teman. Ngga masalah.

 

Berawal dari kaus kaki, kita merasa ngga cocok kalau pasangannya celana jeans, lalu memutuskan untuk memakai rok. Setelah terbiasa dengan rok dan kaus kaki, kerudung pendek pun rasanya ngga padu dengan rok panjang dan kaus kaki. Kemudian kita memakai kerudung yang menutup dada. Dan bukan tidak mungkin, kemudian kita lebih nyaman dengan gamis dan kerudung lebar, tentunya dengan sepasang kaus kaki kita.

 

Ya, hidayah Allah harus dijemput. Jika kita terus perbaiki niat, Allah akan memberikan jalanNya. Mungkin kaus kaki letaknya di bawah, tapi bisa jadi sepasang kaus kaki yang membawa kita melangkah ke jannahNya.

 

Wallahua’lam bisshawab.

 

Much love, Eka.